Dipaksa Akui Israel untuk Kesepakatan Nuklir, Akankah Saudi Merapat ke China dan Pakistan?

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:22 WIB
Pemerintahan Trump awalnya menggambarkan kesepakatan kerja sama nuklir sebagai menguntungkan bagi AS dan Arab Saudi tanpa menyebut Israel.

“Perjanjian-perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara kita untuk memperkuat hubungan komersial AS-Arab Saudi, mewujudkan kemakmuran di dalam negeri dan keamanan bagi sekutu kita di luar negeri,” kata Wright dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

Pemerintahan Trump menyebut perjanjian itu sebagai “kemitraan bernilai miliaran dolar selama beberapa dekade” dan mengatakan bahwa perjanjian itu sekarang akan diajukan ke Kongres untuk ditinjau.

Meskipun teks lengkapnya belum dirilis, beberapa laporan media AS menunjukkan bahwa kesepakatan itu akan memungkinkan Arab Saudi untuk memperkaya uranium di dalam negeri daripada mengimpor bahan bakar nuklir dari AS. Tetapi Trump kemudian mengatakan bahwa “tidak akan ada pengayaan material”.

Kesepakatan nuklir baru ini diharapkan berlangsung selama 30 tahun, mentransfer teknologi dan keahlian AS ke kerajaan tersebut.

Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan kesepakatan itu memperkuat “upaya untuk mendiversifikasi sumber energi, memajukan teknologi mutakhir, dan memperluas peluang kerja sama dan investasi dengan cara yang melayani kepentingan bersama kedua negara sahabat”.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pada hari Kamis bahwa kesepakatan itu tidak akan menyebabkan proliferasi nuklir, karena kontraktor AS akan menangani proyek tersebut, memungkinkan Washington untuk memantaunya. Perusahaan perancang reaktor nuklir AS, Westinghouse, diyakini sebagai kontraktor utama.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!