Dipaksa Akui Israel untuk Kesepakatan Nuklir, Akankah Saudi Merapat ke China dan Pakistan?

Sabtu, 25 Juli 2026 - 14:22 WIB
loading...
Dipaksa Akui Israel...
Dipaksa akui Israel untuk kesepakatan nuklir, Akankah Saudi merapat ke China dan Pakistan. Foto/X/@isaacrrr7
A A A
RIYADH - Tawaran Presiden AS Donald Trump tentang kesepakatan nuklir kepada Arab Saudi – yang bergantung pada pengakuan mereka terhadap Israel – mungkin memberikan China dan Pakistan peluang unik. Itu diungkapkan Letnan Jenderal purnawirawan Tariq Khan, mantan komandan Korps Perbatasan Pakistan.

Berbicara kepada Al Jazeera, Khan mengatakan bahwa sekarang Trump tiba-tiba menjadikan kesepakatan nuklir tersebut bersyarat pada Perjanjian Abraham, China memiliki peluang untuk menawarkan kesepakatan nuklir kepada Arab Saudi dan Iran, tanpa syarat, dan bagi Pakistan untuk memainkan peran diplomatik.

“Ini bisa menjadi peluang besar bagi Islamabad untuk membantu menggantikan tawaran bersyarat AS dengan tawaran tanpa syarat dari China untuk energi nuklir. Ini juga dapat membantu menjembatani perbedaan antara Iran dan Arab Saudi, jika Teheran ditawari hal yang sama,” kata Khan.

“Pakistan perlu berpihak pada Iran dan China atau Arab Saudi dan AS. Bagaimanapun, penderitaan akibat kemungkinan penolakan dan pengabaian dari kedua belah pihak akan sangat menghancurkan,” tambahnya.



Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sekali lagi mengatakan bahwa ia tidak akan melanjutkan kesepakatan nuklir sipil dengan Arab Saudi kecuali Riyadh setuju untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, di bawah apa yang disebut Kesepakatan Abraham.

Ketika ditanya pada hari Jumat apakah Departemen Energi AS mendahuluinya ketika mengumumkan kesepakatan tanpa syarat Israel awal pekan ini, Trump berkata: “Tidak, tidak ada yang mendahuluinya.”

“Saya hanya mengatakan bahwa untuk melakukannya, mereka harus menjadi anggota Perjanjian Abraham, yang telah sangat sukses,” tambah presiden AS. “Tetapi sekarang saatnya mereka melakukannya.”

Washington dan Riyadh telah menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir untuk membangun program nuklir sipil di kerajaan tersebut pada hari Rabu.

Namun sehari kemudian, Trump mengumumkan syarat baru di media sosial, mengatakan bahwa Arab Saudi harus terlebih dahulu menormalisasi hubungan dengan Israel.

Ia mengulangi posisi tersebut pada hari Jumat.

Trump mengatakan dia tidak membicarakan kesepakatan itu dengan Menteri Energi Chris Wright sebelum kesepakatan itu ditandatangani, “tetapi itu selalu dipahami, dan Chris tahu, dan Arab Saudi tahu”.

Arab Saudi belum menanggapi pernyataan terbaru Trump yang mengaitkan kesepakatan nuklir dengan normalisasi.

Namun Riyadh telah lama bersikeras bahwa mereka tidak akan menjalin hubungan formal dengan Israel sampai ada jalan yang jelas bagi pembentukan negara Palestina, yang ditentang keras oleh pemerintah Israel saat ini.

Pemerintahan Trump awalnya menggambarkan kesepakatan kerja sama nuklir sebagai menguntungkan bagi AS dan Arab Saudi tanpa menyebut Israel.

“Perjanjian-perjanjian ini mencerminkan komitmen bersama kedua negara kita untuk memperkuat hubungan komersial AS-Arab Saudi, mewujudkan kemakmuran di dalam negeri dan keamanan bagi sekutu kita di luar negeri,” kata Wright dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

Pemerintahan Trump menyebut perjanjian itu sebagai “kemitraan bernilai miliaran dolar selama beberapa dekade” dan mengatakan bahwa perjanjian itu sekarang akan diajukan ke Kongres untuk ditinjau.

Meskipun teks lengkapnya belum dirilis, beberapa laporan media AS menunjukkan bahwa kesepakatan itu akan memungkinkan Arab Saudi untuk memperkaya uranium di dalam negeri daripada mengimpor bahan bakar nuklir dari AS. Tetapi Trump kemudian mengatakan bahwa “tidak akan ada pengayaan material”.

Kesepakatan nuklir baru ini diharapkan berlangsung selama 30 tahun, mentransfer teknologi dan keahlian AS ke kerajaan tersebut.

Kementerian Energi Arab Saudi mengatakan kesepakatan itu memperkuat “upaya untuk mendiversifikasi sumber energi, memajukan teknologi mutakhir, dan memperluas peluang kerja sama dan investasi dengan cara yang melayani kepentingan bersama kedua negara sahabat”.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan pada hari Kamis bahwa kesepakatan itu tidak akan menyebabkan proliferasi nuklir, karena kontraktor AS akan menangani proyek tersebut, memungkinkan Washington untuk memantaunya. Perusahaan perancang reaktor nuklir AS, Westinghouse, diyakini sebagai kontraktor utama.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Houthi dan Arab Saudi...
Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Ini 5 Pemicunya
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Pasukan Koalisi Pimpinan...
Pasukan Koalisi Pimpinan Arab Saudi Serang Wilayah Houthi Yaman
Ini Sosok Pangeran Arab...
Ini Sosok Pangeran Arab Saudi yang Tewas di Hotel Mewah usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Seorang Pangeran Arab...
Seorang Pangeran Arab Saudi Tewas di Hotel Kensington usai Konsumsi Narkoba dan Alkohol
Trump: Syarat Arab Saudi...
Trump: Syarat Arab Saudi Miliki Program Nuklir Harus Akui Negara Israel
Tembus Blokade Laut...
Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Perang di Iran Telah...
Perang di Iran Telah Telan Biaya Rp671 Triliun, Menhan AS Minta Dana Tambahan
Perceraian Abad Ini,...
Perceraian Abad Ini, Taipan Korsel Bayar Harta Gana-Gini Rp11,5 Triliun ke Mantan Istri
Rekomendasi
Lepas dari Pertamina,...
Lepas dari Pertamina, Pelita Air Bakal Gabung di Bawah Garuda Indonesia
Tanoto Scholars Gathering...
Tanoto Scholars Gathering 2026 Perkuat Kepemimpinan 240 Penerima Beasiswa TELADAN
Mengapa Al-Quran Tidak...
Mengapa Al-Qur'an Tidak Menyebut Dajjal? Ini Penjelasan dan Hikmah di Baliknya
Berita Terkini
Setelah Ribuan Gen Z...
Setelah Ribuan Gen Z Berdemo selama Berminggu-minggu, Menteri Pendidikan India Mundur
Viral di Media Sosial,...
Viral di Media Sosial, Jet Tempur AS Diduga Jatuh di Iran pada Serangan ke-13
Siapa Yu Deng dan Hong...
Siapa Yu Deng dan Hong Wang? Matematikawan China yang Memecahkan Masalah Paling Sulit di Dunia
Selama 30 Tahun, Kakek...
Selama 30 Tahun, Kakek di Singapura Ini Perkosa 11 Gadis, Termasuk Anak, Cucu, hingga Keponakan
Ini Perceraian Termahal...
Ini Perceraian Termahal Abad Ini! Nilainya Capai Rp11 Triliun
Houthi dan Arab Saudi...
Houthi dan Arab Saudi Saling Serang, Ini 5 Pemicunya
Infografis
3 Senjata Canggih Iran...
3 Senjata Canggih Iran yang Ciptakan Mimpi Buruk bagi AS dan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved