Rusia Bersiap Kirim 20 Jet Tempur Su-35 untuk Iran
Minggu, 05 Juli 2026 - 11:37 WIB
Sukhoi Su-35 adalah pesawat tempur generasi 4+ operasional tercanggih Rusia, kedua setelah pesawat siluman Sukhoi Su-57 yang jumlahnya terbatas.
Dikembangkan dari Sukhoi Su-27, Su-35 memiliki kemampuan manuver yang di-upgrade, mesin pengarah dorong, radar yang lebih baik, dan kemampuan multiperan untuk misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat.
Pesawat tempur ini mulai beroperasi dengan Angkatan Udara Rusia pada tahun 2014 dan diproduksi oleh United Aircraft Corporation (UAC). Meskipun sangat lincah, para analis mencatat bahwa avionik dan radarnya masih kurang canggih dibandingkan dengan banyak pesawat tempur Barat modern yang dilengkapi dengan sistem radar AESA.
Rusia secara aktif menggunakan Su-35 dalam perang melawan Ukraina untuk pertempuran udara, peluncuran rudal, dan serangan bom berpemandu terhadap posisi garis depan. Ukraina tidak mengoperasikan pesawat Su-35.
Pada April 2026, UAC mengirimkan sejumlah pesawat tempur Su-35 baru ke Angkatan Udara Rusia, menandai pengiriman pertama yang diumumkan secara publik tahun ini.
UAC mengatakan pada 17 April bahwa pesawat tersebut telah menyelesaikan pengujian pabrik dan telah dipindahkan ke lapangan terbang operasionalnya.
Pengiriman publik sebelumnya diumumkan pada Desember 2025. Media pertahanan Militarnyi melaporkan bahwa setidaknya dua pesawat Su-35S terlihat dalam rekaman promosi UAC dari pabrik produksi perusahaan di Komsomolsk-on-Amur.
Sumber penerbangan Rusia memperkirakan UAC mengirimkan lebih dari 20 jet Su-35S pada tahun 2025, dibandingkan dengan 15 pesawat pada tahun 2024.
Pesawat tempur ini juga menarik perhatian dalam investigasi media terkait sanksi Barat. Sebuah laporan tahun 2025 oleh International Partnership for Human Rights dan National Anti-Corruption Action Center menemukan bahwa pesawat Su-34 dan Su-35 Rusia yang ditembak jatuh mengandung sejumlah besar elektronik buatan luar negeri yang penting untuk penargetan, navigasi, dan komunikasi.
Para peneliti melacak 889 komponen asing di Su-35, sebagian besar berasal dari perusahaan AS, menunjukkan bahwa Rusia terus menghindari sanksi melalui perusahaan perantara.
Dikembangkan dari Sukhoi Su-27, Su-35 memiliki kemampuan manuver yang di-upgrade, mesin pengarah dorong, radar yang lebih baik, dan kemampuan multiperan untuk misi udara-ke-udara dan udara-ke-darat.
Pesawat tempur ini mulai beroperasi dengan Angkatan Udara Rusia pada tahun 2014 dan diproduksi oleh United Aircraft Corporation (UAC). Meskipun sangat lincah, para analis mencatat bahwa avionik dan radarnya masih kurang canggih dibandingkan dengan banyak pesawat tempur Barat modern yang dilengkapi dengan sistem radar AESA.
Rusia secara aktif menggunakan Su-35 dalam perang melawan Ukraina untuk pertempuran udara, peluncuran rudal, dan serangan bom berpemandu terhadap posisi garis depan. Ukraina tidak mengoperasikan pesawat Su-35.
Pada April 2026, UAC mengirimkan sejumlah pesawat tempur Su-35 baru ke Angkatan Udara Rusia, menandai pengiriman pertama yang diumumkan secara publik tahun ini.
UAC mengatakan pada 17 April bahwa pesawat tersebut telah menyelesaikan pengujian pabrik dan telah dipindahkan ke lapangan terbang operasionalnya.
Pengiriman publik sebelumnya diumumkan pada Desember 2025. Media pertahanan Militarnyi melaporkan bahwa setidaknya dua pesawat Su-35S terlihat dalam rekaman promosi UAC dari pabrik produksi perusahaan di Komsomolsk-on-Amur.
Sumber penerbangan Rusia memperkirakan UAC mengirimkan lebih dari 20 jet Su-35S pada tahun 2025, dibandingkan dengan 15 pesawat pada tahun 2024.
Pesawat tempur ini juga menarik perhatian dalam investigasi media terkait sanksi Barat. Sebuah laporan tahun 2025 oleh International Partnership for Human Rights dan National Anti-Corruption Action Center menemukan bahwa pesawat Su-34 dan Su-35 Rusia yang ditembak jatuh mengandung sejumlah besar elektronik buatan luar negeri yang penting untuk penargetan, navigasi, dan komunikasi.
Para peneliti melacak 889 komponen asing di Su-35, sebagian besar berasal dari perusahaan AS, menunjukkan bahwa Rusia terus menghindari sanksi melalui perusahaan perantara.
(mas)
Lihat Juga :