Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radioaktif

Minggu, 14 Juni 2026 - 20:29 WIB
“Polusi radioaktif di Bukit Merah mengakibatkan anak lahir cacat dan aneka gangguan kesehatan. Ini menjadi kekhawatiran kami akan terulang di daerah kami di Pahang,” kata Tan Bun Teet (78), aktivis lingkungan hidup di Kuantan, Negara Bagian Pahang.

Menurut Tan yang dihubungi dari Jakarta, paparan radio aktif dalam jangka panjang bisa memicu kanker; anak lahir cacat dengan kepala lunak (jelly fish head) dan masalah lainnya.

Paparan radioaktif jangka panjang memang membahayakan manusia. Semisal bekal lokasi uji coba bom nukir Amerika Serikat di Kepulauan Marshall yang berakhir tahun 1956, sampai hari ini mengakibatkan 80 persen penduduk setempat terjangkit aneka jenis kanker.

Ditanya kenapa tidak banyak pemberitaan soal ancaman radioaktif di Kuantan, Tan mengatakan media massa di Malaysia dibungkam dan bisnis tersebut melibatkan orang-orang penting.

Limbah radioaktif Lynas di Malaysia disimpan di tempat terbuka, terkena embusan angin dan terpaan hujan. Menurut Tan, Lynas di Australia membuat kubah khusus untuk menanam limbah radio aktif secara aman.

Pemerintah Malaysia, dalam perpanjangan izin operasional Lynas Rare Earth Maret 2026, menyatakan bahwa Lynas harus menghentikan limbah radio aktif pada tahun 2031. Dalam laporan The Edge Malaysia, Menteri Sains, Teknologi, dan Inovasi (MOSTI) Datuk Chang Lih Kang, dalam sesi Parlemen menegaskan bahwa Lynas akan beroperasi sesuai aturan penanganan material radioaktif.

Namun kelompok pegiat lingkungan Malaysia masih menuntut Lynas dan Pemerintah Malaysia agar limbah tersebut dibawa kembali ke Australia karena di sana terdapat tempat penyimpanan limbah radio aktif yang layak.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!