Malaysia Geram dengan Respons Lemah Dunia atas Norwegia Batalkan Sepihak Penjualan Rudal Canggih

Senin, 01 Juni 2026 - 07:11 WIB
Dia mengatakan hubungan internasional tidak lagi diatur oleh prinsip-prinsip, tetapi oleh kehendak dan keinginan pribadi. "Ini adalah lintasan yang sangat berbahaya bagi sistem internasional, terutama jika melibatkan kekuatan besar," katanya.

Sebelumnya, sebuah laporan sejumlah media asing mengatakan bahwa penjualan rudal, yang berisi komponen buatan Amerika, mungkin telah diblokir karena pembatasan ekspor Washington. Tetapi AS menolak klaim tersebut, mengatakan bahwa mereka tidak memiliki peran dalam keputusan Norwegia.

Khaled mengatakan insiden itu adalah "pelajaran yang sangat baik", mencatat bahwa Malaysia akan terus menyambut mitra untuk membantu pengembangan kemampuan militernya meskipun dengan lebih hati-hati.

"Tentu saja, kita akan berurusan dengan mereka yang kita percayai...Kita tidak dapat bergantung pada mereka yang tidak tulus," katanya.

Sebelumnya, dia mengatakan bahwa Malaysia tidak akan lagi membeli produk terkait pertahanan dari Norwegia setelah kejadian ini.

Pengamat ASEAN Vu Lam mengatakan komunitas internasional kemungkinan besar tetap diam karena sebagian besar negara memiliki hak serupa untuk mencabut izin ekspor.

“Menegur Norwegia akan merusak wewenang mereka sendiri,” kata Vu. "Negara tersebut membingkainya sebagai masalah regulasi daripada janji yang dilanggar, yang memberi semua orang alasan mudah untuk tidak berkomentar," paparnya.

Menurutnya, sorotan pada aturan ekspor AS juga dapat memengaruhi keengganan mereka, karena mereka tidak ingin mengambil risiko secara implisit mengkritik Washington.

Vu menyebut keputusan Khaled untuk mengangkat isu tersebut di konferensi sebagai langkah “disengaja” untuk menjangkau Norwegia, serta pemasok alternatif potensial dan pembeli non-blok.

“Ini mungkin hanya akan memperkuat keluhan bilateral menjadi cerita peringatan yang lebih luas tentang keandalan pemasok Barat,” katanya.

Bridget Welsh, seorang analis politik yang mengkhususkan diri di Asia Tenggara, mengatakan sorotan pada kontrak pertahanan, yang biasanya tidak banyak dibahas, kemungkinan akan diperkuat.

"Pengalaman Malaysia terkait kesepakatan Norwegia merupakan contoh yang mengilustrasikan," katanya. "Masalah yang lebih luas adalah negara-negara kecil dapat lengah di era ketidakpastian geopolitik ini," imbuh dia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!