Habis Covid-19, Muncul Hantavirus: Ini Daftar 5 Perusahaan Vaksin yang Untung Besar-besaran

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:21 WIB

3. Sinovac Biotech

•Produk vaksin: CoronaVac

•Laba bersih: USD5,1 miliar (semester pertama 2021)

•Pendiri Sinovac: Yin Weidong, ilmuwan dan pengusaha bioteknologi asal China

Sinovac menjadi salah satu perusahaan Asia yang paling diuntungkan selama pandemi. Vaksin CoronaVac digunakan secara luas di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut berbagai laporan finansial yang dikutip komunitas investor dan media-media ekonomi, Sinovac membukukan penjualan sekitar USD11 miliar hanya pada semester pertama 2021, dengan laba bersih sekitar USD5,1 miliar. Pada semester kedua 2021, penjualannya masih mencapai sekitar USD8,4 miliar.

Keberhasilan CoronaVac didukung kontrak besar dengan banyak negara berkembang yang membutuhkan akses vaksin cepat dan murah.

4. AstraZeneca

•Produk vaksin: Vaxzevria (AstraZeneca-Oxford)

•Laba bersih: USD112 hingga USD115 juta (pada 2021 saja)

•CEO AstraZeneca: Pascal Soriot

Berbeda dengan Pfizer atau Moderna, AstraZeneca awalnya menjual vaksin Covid-19 dengan prinsip non-profit selama fase darurat pandemi.

Namun seiring waktu, perusahaan mulai memperoleh keuntungan moderat dari distribusi vaksin global. Vaksin AstraZeneca dipakai luas di Eropa, Asia, hingga Afrika karena harganya lebih murah dan penyimpanannya lebih mudah.

Pendapatan total AstraZeneca tahun 2021 mencapai sekitar USD37,4 miliar. Sedangkan untuk penjualan vaksin Covid-19 AstraZeneca (Vaxzevria) mencapai sekitar USD4,1 miliar pada 2021.

Meski demikian, perusahaan menghadapi berbagai kontroversi terkait laporan efek samping pembekuan darah yang sempat memicu penghentian penggunaan di sejumlah negara.

5. Johnson & Johnson

•Produk vaksin: Janssen COVID-19 Vaccine

•Laba bersih: USD20,9 miliar

•CEO Johnson & Johnson: Joaquin Duato

Johnson & Johnson sempat menarik perhatian karena vaksinnya hanya membutuhkan satu dosis.

Namun performa bisnis vaksin ini tidak sebesar Pfizer maupun Moderna. Bahkan perusahaan tercatat mengalami biaya penghentian produksi sekitar USD1,5 miliar setelah permintaan vaksin menurun tajam.

Meski demikian, vaksin Janssen tetap menjadi bagian penting program vaksinasi global pada awal pandemi.

Penjualan vaksin Janssen pada 2021 mencapai sekitar USD2,39 miliar. Pada 2022, Johnson & Johnson memperkirakan penjualan vaksin Covid-19 sekitar USD3–3,5 miliar.

Tetapi perusahaan tidak memisahkan angka laba bersih khusus vaksin Janssen dalam laporan publiknya. Yang dipublikasikan adalah laba bersih keseluruhan perusahaan. Laba bersih total Johnson & Johnson tahun 2021 mencapai sekitar USD20,9 miliar.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!