Mossad Gagal Gulingkan Rezim Iran, PM Israel Benjamin Netanyahu Frustrasi

Selasa, 24 Maret 2026 - 06:38 WIB
Dalam konsep rencana tersebut, perang akan dimulai dengan pembunuhan para pemimpin Iran, diikuti oleh serangkaian operasi intelijen yang bertujuan untuk mendorong perubahan rezim. Mossad percaya bahwa ini dapat menyebabkan pemberontakan massal yang akan membawa kemenangan bagi Israel dan AS.

Saat perang dimulai, pesan publik Trump mencerminkan hal ini. Dalam pernyataan video berdurasi delapan menit, dia berkata: “Akhirnya, kepada rakyat Iran yang hebat dan bangga, saya katakan malam ini bahwa saat kebebasan Anda sudah dekat...ketika kita selesai, ambil alih pemerintahan Anda. Itu akan menjadi milik Anda. Ini mungkin satu-satunya kesempatan Anda untuk beberapa generasi.”

Namun, pembicaraan tentang perubahan rezim dengan cepat menguap. Kurang dari dua minggu kemudian, para senator AS keluar dari pengarahan tentang perang untuk mengatakan bahwa menggulingkan Republik Islam bukanlah salah satu tujuannya, dan bahwa sebenarnya “tidak ada rencana” sama sekali untuk operasi militer tersebut.

Netanyahu Frustrasi dengan Mossad



Penilaian Badan Intelijen Pusat (CIA) sendiri tentang situasi tersebut adalah bahwa pemerintahan Iran tidak akan digulingkan. Faktanya, badan intelijen AS itu mengatakan bahwa jika para pemimpin Iran terbunuh, kepemimpinan yang "lebih radikal" akan mengambil alih kekuasaan.

Intelijen Israel melihat pemerintah Iran melemah tetapi masih utuh.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!