Trump Usulkan Pengambilalihan Kuba secara Damai di Tengah Blokade Bahan Bakar AS
Sabtu, 28 Februari 2026 - 08:15 WIB
Pada 30 Januari, misalnya, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menuduh Trump berupaya "mencekik ekonomi Kuba" dengan blokade bahan bakar.
"Langkah baru ini mengungkapkan sifat fasis, kriminal, dan genosida dari satu kelompok yang telah membajak kepentingan rakyat Amerika untuk keuntungan pribadi semata," tulisnya di media sosial.
Baru pekan ini, pemerintah Diaz-Canel mengumumkan telah terjadi baku tembak mematikan dengan satu kapal cepat berplat nomor Florida di dekat pantainya.
Pemerintah AS membantah bertanggung jawab. Namun Kuba menggambarkan kapal tersebut sebagai bagian dari "penyusupan untuk tujuan teroris".
Sudah ada tanda-tanda bahwa AS mungkin akan berupaya mengurangi beberapa tekanan terhadap Kuba, sambil tetap mempertahankan penentangannya yang keras terhadap pemerintah komunis di pulau itu.
Awal Februari lalu, pemerintahan Trump mengumumkan bantuan kemanusiaan sebesar USD6 juta untuk pulau itu, yang akan didistribusikan melalui perantara seperti Gereja Katolik, bukan pemerintah setempat.
Dan pada hari Rabu, Departemen Keuangan AS mengungkapkan bahwa mereka akan "menerapkan kebijakan perizinan yang menguntungkan" untuk penjualan kembali minyak Venezuela ke Kuba, dengan melarang transaksi apa pun dengan pemerintah Kuba atau dinas militer dan intelijennya.
Para kritikus berpendapat krisis kemanusiaan di Kuba dapat memicu konsekuensi bagi Trump, yang telah berkampanye untuk menindak imigrasi dan memangkas pengeluaran pemerintah.
Kuba telah mengalami beberapa gelombang migrasi ke AS, yang terbaru selama pandemi COVID-19, ketika hampir 2 juta orang meninggalkan pulau itu karena ketidakstabilan ekonomi dan penindasan politik.
Sementara itu, Diaz-Canel kembali menegaskan pada hari Jumat bahwa pemerintahnya akan membela diri dari ancaman luar apa pun.
“Kuba akan membela diri dengan tekad dan ketegasan terhadap agresi teroris atau tentara bayaran apa pun yang berupaya merusak kedaulatan dan stabilitas nasionalnya,” katanya.
Baca juga: Memanas, AS Peringatkan Warga Amerika Segera Tinggalkan Iran
"Langkah baru ini mengungkapkan sifat fasis, kriminal, dan genosida dari satu kelompok yang telah membajak kepentingan rakyat Amerika untuk keuntungan pribadi semata," tulisnya di media sosial.
Baru pekan ini, pemerintah Diaz-Canel mengumumkan telah terjadi baku tembak mematikan dengan satu kapal cepat berplat nomor Florida di dekat pantainya.
Pemerintah AS membantah bertanggung jawab. Namun Kuba menggambarkan kapal tersebut sebagai bagian dari "penyusupan untuk tujuan teroris".
Melonggarkan Pembatasan?
Sudah ada tanda-tanda bahwa AS mungkin akan berupaya mengurangi beberapa tekanan terhadap Kuba, sambil tetap mempertahankan penentangannya yang keras terhadap pemerintah komunis di pulau itu.
Awal Februari lalu, pemerintahan Trump mengumumkan bantuan kemanusiaan sebesar USD6 juta untuk pulau itu, yang akan didistribusikan melalui perantara seperti Gereja Katolik, bukan pemerintah setempat.
Dan pada hari Rabu, Departemen Keuangan AS mengungkapkan bahwa mereka akan "menerapkan kebijakan perizinan yang menguntungkan" untuk penjualan kembali minyak Venezuela ke Kuba, dengan melarang transaksi apa pun dengan pemerintah Kuba atau dinas militer dan intelijennya.
Para kritikus berpendapat krisis kemanusiaan di Kuba dapat memicu konsekuensi bagi Trump, yang telah berkampanye untuk menindak imigrasi dan memangkas pengeluaran pemerintah.
Kuba telah mengalami beberapa gelombang migrasi ke AS, yang terbaru selama pandemi COVID-19, ketika hampir 2 juta orang meninggalkan pulau itu karena ketidakstabilan ekonomi dan penindasan politik.
Sementara itu, Diaz-Canel kembali menegaskan pada hari Jumat bahwa pemerintahnya akan membela diri dari ancaman luar apa pun.
“Kuba akan membela diri dengan tekad dan ketegasan terhadap agresi teroris atau tentara bayaran apa pun yang berupaya merusak kedaulatan dan stabilitas nasionalnya,” katanya.
Baca juga: Memanas, AS Peringatkan Warga Amerika Segera Tinggalkan Iran
(sya)
Lihat Juga :