Begini Nasib Negara-negara yang Telah Diinvasi AS, dari Irak hingga Venezuela

Jum'at, 09 Januari 2026 - 10:36 WIB

2. Panama

Waktu: Dimulai 20 Desember 1989.

Nama operasi: Operation Just Cause.

Dampak: Presiden Manuel Noriega ditangkap, Panama menderita kerugian besar.

AS, di bawah Presiden George H.W. Bush, melancarkan invasi dengan nama sandi Operation Just Cause terhadap Panama pada 1989.

Invasi itu menggulingkan diktator Manuel Noriega, presiden Panama yang sebelumnya adalah sekutu intelijen AS.

Noriega saat itu dituduh korupsi dan terlibat perdagangan narkoba. AS berdalih invasinya untuk melindungi keamanan warga AS di terusan Panama.

Invasi AS menyebabkan kerusakan besar di El Chorrillo, salah satu daerah Panama City, di mana ribuan penduduk kehilangan rumah akibat serangan udara dan tembakan.

Sekitar 20.000 orang mengungsi, dan kerusakan ekonomi diperkirakan mencapai USD1,5 hingga USD2 miliar.

Noriega ditangkap salama operasi militer AS. Dia dibawa ke AS dan diadili. Pemerintahan baru pun dibentuk.

3. Libya

Waktu: Dimulai 19 Maret 2011.

Nama operasi: Operation Odyssey Dawn (AS), dilanjutkan dengan Operation Unified Protector (NATO).

Dampak: Moammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh pemberontak, Libya dilanda perang saudara.

Pada 2011, AS di bawah Presiden Barack Obama, bersama NATO menjalankan operasi militer di Libya untuk mendukung kelompok pemberontak dan menegakkan zona larangan terbang di bawah mandat PBB menjelang jatuhnya rezim Moammar Gaddafi. Intervensi ini mencakup puluhan ribu sorti udara dalam beberapa bulan.

AS berdalih invasinya untuk melindungi warga sipil Libya dan menegakkan mandat PBB. Selama invasi AS dan NATO berlangsung, Gaddafi digulingkan dan tewas di tangan massa pemberontak.

Meski misi invasi untuk melindungi warga sipil, namun Libya justru mengalami nasib lebih tragis setelah jatuhnya rezim Gaddafi. Negara itu tak pernah stabil, fragmentasi politik, milisi bersenjata, dan persaingan wilayah terus menciptakan kekacauan berkepanjangan sampai sekarang.

Banyak laporan menunjukkan bahwa intervensi AS dan NATO justru memperparah konflik internal, termasuk pelanggaran HAM dan kekerasan di berbagai wilayah.

Libya telah menjadi contoh klasik di mana bantuan militer asing tanpa strategi politik jangka panjang dapat mengakibatkan negara gagal yang terfragmentasi dan tidak stabil.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!