Rusia Dukung China untuk Caplok Taiwan, Perang Baru Akan Pecah?
Senin, 29 Desember 2025 - 15:09 WIB
Rusia dukung China untuk mencaplok Taiwan. Foto/X/@Currentreport1
TAIPEI - Taiwan adalah bagian yang tak terpisahkan dari China. Itu ditegaskan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov. Dia menekankan Rusia dengan tegas menentang kemerdekaan pulau itu dalam bentuk apa pun.
Penegasan Moskow memperkuat prediksi bahwa perang baru bisa saja pecah di Asia antara China dan Taiwan yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam sebuah wawancara dengan TASS yang diterbitkan pada hari Minggu, Lavrov menyatakan bahwa Rusia percaya bahwa "masalah Taiwan adalah urusan internal" China dan bahwa "Beijing memiliki hak penuh untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya."
Menurut Lavrov, kebuntuan terkait Taiwan sering dibahas "terisolasi dari kenyataan dan dengan memanipulasi fakta." Ia mencatat bahwa beberapa negara, meskipun menyatakan komitmen terhadap kebijakan Satu China, secara de facto lebih menyukai mempertahankan status quo, yang sebenarnya berarti "ketidaksepakatan mereka dengan prinsip reunifikasi nasional China."
Baca Juga: 10 Kapal Perang Fregat Terkuat di Dunia, Salah Satunya Admiral Gorshkov
Selain itu, Taiwan saat ini digunakan sebagai alat “pencegahan militer-strategis” terhadap Beijing, dengan beberapa negara Barat ingin mengambil keuntungan dari uang dan teknologi Taiwan, termasuk dengan menjual persenjataan AS yang mahal ke Taipei, kata menteri tersebut.
Penegasan Moskow memperkuat prediksi bahwa perang baru bisa saja pecah di Asia antara China dan Taiwan yang didukung Amerika Serikat dan sekutunya.
Dalam sebuah wawancara dengan TASS yang diterbitkan pada hari Minggu, Lavrov menyatakan bahwa Rusia percaya bahwa "masalah Taiwan adalah urusan internal" China dan bahwa "Beijing memiliki hak penuh untuk mempertahankan kedaulatan dan integritas wilayahnya."
Menurut Lavrov, kebuntuan terkait Taiwan sering dibahas "terisolasi dari kenyataan dan dengan memanipulasi fakta." Ia mencatat bahwa beberapa negara, meskipun menyatakan komitmen terhadap kebijakan Satu China, secara de facto lebih menyukai mempertahankan status quo, yang sebenarnya berarti "ketidaksepakatan mereka dengan prinsip reunifikasi nasional China."
Baca Juga: 10 Kapal Perang Fregat Terkuat di Dunia, Salah Satunya Admiral Gorshkov
Selain itu, Taiwan saat ini digunakan sebagai alat “pencegahan militer-strategis” terhadap Beijing, dengan beberapa negara Barat ingin mengambil keuntungan dari uang dan teknologi Taiwan, termasuk dengan menjual persenjataan AS yang mahal ke Taipei, kata menteri tersebut.
Lihat Juga :