Arsitek Perang Irak, Eks Wapres AS Dick Cheney Meninggal Dunia di Usia 84 Tahun
Selasa, 04 November 2025 - 19:38 WIB
Latar belakangnya sebagai mantan Menteri Pertahanan di era George H. W. Bush (1989–1993) serta hubungan dekatnya dengan kompleks industri militer dan perusahaan minyak seperti Halliburton membuatnya memiliki pandangan yang sangat strategis terhadap Timur Tengah, khususnya Irak yang kaya minyak dan dipimpin Saddam Hussein yang dianggap ancaman bagi kepentingan Amerika.
Cheney meyakini bahwa menggulingkan Saddam Hussein akan memperkuat dominasi Amerika di kawasan Timur Tengah, membuka akses terhadap sumber daya minyak, serta memberikan sinyal kuat terhadap negara-negara lain seperti Iran dan Korea Utara.
Ia juga berperan besar dalam menyusun argumen bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD), meskipun kemudian terbukti tidak benar.
Cheney bersama Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dan kelompok neokonservatif di Washington membentuk semacam “pemerintahan dalam pemerintahan” yang mendorong invasi, sering kali meminggirkan pandangan skeptis dari CIA, Departemen Luar Negeri, dan komunitas intelijen lain.
Dalam praktiknya, Cheney mendorong kebijakan preemptive war— perang yang dilancarkan untuk mencegah ancaman sebelum benar-benar muncul — dan menekankan pentingnya mengganti rezim yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan Amerika.
Cheney meyakini bahwa menggulingkan Saddam Hussein akan memperkuat dominasi Amerika di kawasan Timur Tengah, membuka akses terhadap sumber daya minyak, serta memberikan sinyal kuat terhadap negara-negara lain seperti Iran dan Korea Utara.
Ia juga berperan besar dalam menyusun argumen bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal (WMD), meskipun kemudian terbukti tidak benar.
Cheney bersama Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld dan kelompok neokonservatif di Washington membentuk semacam “pemerintahan dalam pemerintahan” yang mendorong invasi, sering kali meminggirkan pandangan skeptis dari CIA, Departemen Luar Negeri, dan komunitas intelijen lain.
Dalam praktiknya, Cheney mendorong kebijakan preemptive war— perang yang dilancarkan untuk mencegah ancaman sebelum benar-benar muncul — dan menekankan pentingnya mengganti rezim yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan Amerika.
Lihat Juga :