Tragedi Kelaparan Melanda El-Fasher usai Jadi Medan Pembantaian Massal RSF
Selasa, 04 November 2025 - 07:03 WIB
El-Fasher menjadi sasaran serangan RSF dan dikepung selama sekitar 18 bulan sebelum jatuh akhir bulan lalu, memperdalam perpecahan geografis di Sudan.
Selama pengepungan, penduduk mengatakan pasokan makanan terputus, memaksa orang-orang untuk makan pakan ternak dan terkadang kulit binatang. Tempat-tempat di mana orang-orang berkumpul untuk makan di dapur umum menjadi sasaran serangan pesawat nirawak, kata mereka kepada Reuters.
Akibatnya, semua anak yang tiba di kota terdekat, Tawila, setelah melarikan diri dari El-Fasher, mengalami kekurangan gizi, kata koordinator proyek Dokter Lintas Batas (MSF), Sylvain Pennicaud, kepada Reuters pada hari Senin (3/11/2025), sementara orang dewasa tiba dalam keadaan kurus kering.
Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengatakan pada hari Senin bahwa mereka sedang mengumpulkan bukti dugaan pembunuhan massal dan pemerkosaan setelah jatuhnya El-Fashir. Kepala Palang Merah mengatakan sejarah terulang kembali di Darfur.
Laporan IPC hari Senin, berdasarkan analisis untuk September 2025, menyebutkan bahwa Tawila, serta Mellit dan Tawisha, dua tujuan lain bagi orang-orang yang mengungsi dari El-Fashir, berisiko kelaparan.
IPC menyatakan bahwa jumlah keseluruhan warga Sudan yang menghadapi kerawanan pangan akut menurun sebesar 6% menjadi 21,2 juta orang—atau 45% dari total populasi—karena stabilisasi bertahap dan peningkatan akses di Sudan tengah, tempat tentara Sudan mengambil alih kendali pada awal tahun.
Namun, situasi memburuk di wilayah Darfur dan Kordofan karena pertempuran terkonsentrasi di sana, yang merampas mata pencaharian penduduk, meningkatkan harga, dan mendorong pengungsian, kata IPC.
Selama pengepungan, penduduk mengatakan pasokan makanan terputus, memaksa orang-orang untuk makan pakan ternak dan terkadang kulit binatang. Tempat-tempat di mana orang-orang berkumpul untuk makan di dapur umum menjadi sasaran serangan pesawat nirawak, kata mereka kepada Reuters.
Akibatnya, semua anak yang tiba di kota terdekat, Tawila, setelah melarikan diri dari El-Fasher, mengalami kekurangan gizi, kata koordinator proyek Dokter Lintas Batas (MSF), Sylvain Pennicaud, kepada Reuters pada hari Senin (3/11/2025), sementara orang dewasa tiba dalam keadaan kurus kering.
Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengatakan pada hari Senin bahwa mereka sedang mengumpulkan bukti dugaan pembunuhan massal dan pemerkosaan setelah jatuhnya El-Fashir. Kepala Palang Merah mengatakan sejarah terulang kembali di Darfur.
Laporan IPC hari Senin, berdasarkan analisis untuk September 2025, menyebutkan bahwa Tawila, serta Mellit dan Tawisha, dua tujuan lain bagi orang-orang yang mengungsi dari El-Fashir, berisiko kelaparan.
IPC menyatakan bahwa jumlah keseluruhan warga Sudan yang menghadapi kerawanan pangan akut menurun sebesar 6% menjadi 21,2 juta orang—atau 45% dari total populasi—karena stabilisasi bertahap dan peningkatan akses di Sudan tengah, tempat tentara Sudan mengambil alih kendali pada awal tahun.
Namun, situasi memburuk di wilayah Darfur dan Kordofan karena pertempuran terkonsentrasi di sana, yang merampas mata pencaharian penduduk, meningkatkan harga, dan mendorong pengungsian, kata IPC.
Lihat Juga :