Siapa Red Command, Geng Narkoba yang Dibantai Besar-besaran di Rio de Janeiro?
Jum'at, 31 Oktober 2025 - 13:11 WIB
Mayat-mayat bergelimpangan di sebuah ruas jalan di kota Rio de Janeiro, Brasil, setelah polisi menggerebek geng narkoba terkuat yang dikenal sebagai Comando Vermelho. Foto/O Globo
RIO DE JANEIRO - Setidaknya 40 mayat telah berjejer di jalan-jalan Rio de Janeiro, Brasil, sehari setelah pasukan polisi menggerebek geng narkoba terkuat Comando Vermelho atau Red Command. Kantor Pembela Umum—sebuah badan negara di Rio de Janeiro yang menyediakan bantuan hukum bagi masyarakat miskin—menyebut jumlah orang yang tewas dalam operasi polisi mencapai 132 orang.
Pembantaian besar-besaran pada hari Selasa ini melibatkan sekitar 2.500 petugas polisi. Operasi tersebut telah menjerumuskan kota Rio de Janeiro ke dalam kekacauan dengan pemandangan baku tembak dan penjatuhan bom dari pesawat nirawak.
Pada akhir operasi, 81 tersangka geng narkoba ditangkap dan 119 orang dinyatakan tewas, menurut data polisi—yang berbeda dengan data Kantor Pembela Umum.
Baca Juga: Mayat-mayat Bergelimpangan di Jalanan Rio de Janeiro usai Polisi Gerebek Geng Narkoba Terkuat
Operasi ini merupakan operasi paling mematikan yang pernah dilakukan kepolisian Rio de Janeiro, dan menuai kritik dari kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) karena penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro membagikan sebuah video di X sebagai tanggapan atas penggerebekan tersebut, menyebutnya sebagai "hari bersejarah dalam perang melawan kejahatan di Rio de Janeiro."
Sementara itu, kelompok-kelompok HAM telah menyerukan penyelidikan atas penggerebekan tersebut karena jumlah korban jiwa yang sangat besar.
“Rentetan operasi mematikan yang tidak menghasilkan keamanan yang lebih baik bagi penduduk, tetapi justru menyebabkan ketidakamanan, menunjukkan kegagalan kebijakan Rio de Janeiro,” tulis César Muñoz, direktur Human Rights Watch di Brasil, di X, menyebut kematian massal tersebut sebagai “tragedi.”
“Kejaksaan harus membuka penyelidikannya sendiri dan mengklarifikasi keadaan setiap kematian,” tambahnya.
Rio Times menyebut penggerebekan itu sebagai “hari paling mematikan dalam sejarah Rio", sementara O Globo menulis penggerebekan itu sebagai “pukulan terbesar yang diderita Comando Vermelho sejak awal sejarahnya.” Jumlah korban tewas melampaui jumlah korban dalam penggerebekan yang dilakukan polisi terhadap kelompok tersebut pada tahun 2021.
Media-media lokal melaporkan bahwa tersangka anggota geng narkoba memblokir jalan-jalan di Rio de Janeiroutara dan tenggara sebagai tanggapan, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada bus-bus, sementara puluhan universitas dan sekolah dilaporkan membatalkan kegiatan belajar-mengajar karena kota tersebut sedang menangani dampaknya.
Warga setempat mengatakan kepada media lokal bahwa kekacauan terjadi pada hari Selasa, saat mereka menghindari peluru dalam penggerebekan yang bocor ke jalan-jalan kota.
“Kami melihat orang-orang dieksekusi: ditembak di punggung, ditembak di kepala, luka tusuk, orang-orang diikat. Tingkat kebrutalan ini, kebencian menyebar—tidak ada cara lain untuk menggambarkannya selain sebagai pembantaian,” ujar seorang aktivis lokal, Raull Santiago, kepada ABC.
Pembantaian besar-besaran pada hari Selasa ini melibatkan sekitar 2.500 petugas polisi. Operasi tersebut telah menjerumuskan kota Rio de Janeiro ke dalam kekacauan dengan pemandangan baku tembak dan penjatuhan bom dari pesawat nirawak.
Pada akhir operasi, 81 tersangka geng narkoba ditangkap dan 119 orang dinyatakan tewas, menurut data polisi—yang berbeda dengan data Kantor Pembela Umum.
Baca Juga: Mayat-mayat Bergelimpangan di Jalanan Rio de Janeiro usai Polisi Gerebek Geng Narkoba Terkuat
Operasi ini merupakan operasi paling mematikan yang pernah dilakukan kepolisian Rio de Janeiro, dan menuai kritik dari kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) karena penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Gubernur Rio de Janeiro Claudio Castro membagikan sebuah video di X sebagai tanggapan atas penggerebekan tersebut, menyebutnya sebagai "hari bersejarah dalam perang melawan kejahatan di Rio de Janeiro."
Sementara itu, kelompok-kelompok HAM telah menyerukan penyelidikan atas penggerebekan tersebut karena jumlah korban jiwa yang sangat besar.
“Rentetan operasi mematikan yang tidak menghasilkan keamanan yang lebih baik bagi penduduk, tetapi justru menyebabkan ketidakamanan, menunjukkan kegagalan kebijakan Rio de Janeiro,” tulis César Muñoz, direktur Human Rights Watch di Brasil, di X, menyebut kematian massal tersebut sebagai “tragedi.”
“Kejaksaan harus membuka penyelidikannya sendiri dan mengklarifikasi keadaan setiap kematian,” tambahnya.
Rio Times menyebut penggerebekan itu sebagai “hari paling mematikan dalam sejarah Rio", sementara O Globo menulis penggerebekan itu sebagai “pukulan terbesar yang diderita Comando Vermelho sejak awal sejarahnya.” Jumlah korban tewas melampaui jumlah korban dalam penggerebekan yang dilakukan polisi terhadap kelompok tersebut pada tahun 2021.
Media-media lokal melaporkan bahwa tersangka anggota geng narkoba memblokir jalan-jalan di Rio de Janeiroutara dan tenggara sebagai tanggapan, yang menyebabkan kerusakan signifikan pada bus-bus, sementara puluhan universitas dan sekolah dilaporkan membatalkan kegiatan belajar-mengajar karena kota tersebut sedang menangani dampaknya.
Warga setempat mengatakan kepada media lokal bahwa kekacauan terjadi pada hari Selasa, saat mereka menghindari peluru dalam penggerebekan yang bocor ke jalan-jalan kota.
“Kami melihat orang-orang dieksekusi: ditembak di punggung, ditembak di kepala, luka tusuk, orang-orang diikat. Tingkat kebrutalan ini, kebencian menyebar—tidak ada cara lain untuk menggambarkannya selain sebagai pembantaian,” ujar seorang aktivis lokal, Raull Santiago, kepada ABC.
Lihat Juga :