Pria Sekarat Ini Ajari Putrinya Hadapi Kematian dengan Berani, Menginspirasi Jutaan Orang
Sabtu, 25 Oktober 2025 - 13:54 WIB
Putrinya meninggalkan pekerjaan real estate-nya pada bulan Agustus untuk merawat Dong bersama ibunya. Meskipun kondisi fisik Dong menurun, sang anak mengatakan Dong tetap kuat secara mental dan terus membimbingnya tentang cara menerima akhir hidup dengan bermartabat dan damai.
Dokter memvonisnya kurang dari enam bulan untuk hidup, tetapi sikap dan kisah hidup Dong telah menyentuh hati jutaan orang, memicu percakapan emosional tentang kehidupan, penyakit, dan kematian di media sosial China.
"Ayah saya ingin hidup bermartabat dan berkualitas. Kami ingin dia terus berjuang, tetapi pada akhirnya, kami memilih untuk menghormati keputusannya," ujar Dong Sanbai kepada SCMP, yang dilansir Sabtu (25/10/2025).
Pada 16 Oktober, Sanbai membagikan video menyentuh hati di media sosial yang menunjukkan percakapan hening dengan ayahnya tentang hidup, mati, dan merelakan.
Dong berkata dengan lembut: "Hidup memang untuk dinikmati. Ketika takdir berkata sudah waktunya untuk berakhir, tak perlu melawannya."
Dia tersenyum saat berbicara, tenang, dan nyaris gembira.
"Orang-orang mengira mereka takut mati. Padahal yang sebenarnya mereka takuti adalah proses kematian. Akhir kehidupan itu sendiri adalah sesuatu yang sepenuhnya alami," tambahnya.
Sambil berlinang air mata, Sanbai menjawab: "Aku mengerti, tapi hatiku masih belum bisa menerima kehilanganmu."
Dokter memvonisnya kurang dari enam bulan untuk hidup, tetapi sikap dan kisah hidup Dong telah menyentuh hati jutaan orang, memicu percakapan emosional tentang kehidupan, penyakit, dan kematian di media sosial China.
"Ayah saya ingin hidup bermartabat dan berkualitas. Kami ingin dia terus berjuang, tetapi pada akhirnya, kami memilih untuk menghormati keputusannya," ujar Dong Sanbai kepada SCMP, yang dilansir Sabtu (25/10/2025).
Pada 16 Oktober, Sanbai membagikan video menyentuh hati di media sosial yang menunjukkan percakapan hening dengan ayahnya tentang hidup, mati, dan merelakan.
Dong berkata dengan lembut: "Hidup memang untuk dinikmati. Ketika takdir berkata sudah waktunya untuk berakhir, tak perlu melawannya."
Dia tersenyum saat berbicara, tenang, dan nyaris gembira.
"Orang-orang mengira mereka takut mati. Padahal yang sebenarnya mereka takuti adalah proses kematian. Akhir kehidupan itu sendiri adalah sesuatu yang sepenuhnya alami," tambahnya.
Sambil berlinang air mata, Sanbai menjawab: "Aku mengerti, tapi hatiku masih belum bisa menerima kehilanganmu."
Lihat Juga :