Profil Soamsawali Kitiyakara, Istri Pertama yang Dicerai Raja Thailand tapi Jadi Permaisuri Bayangan
Senin, 06 Oktober 2025 - 08:40 WIB
Namun, di balik gemerlap pernikahan kerajaan, kehidupan rumah tangga mereka jauh dari bahagia. Vajiralongkorn dikenal playboy dan memiliki hubungan dengan banyak perempuan, bahkan ketika masih berstatus pangeran mahkota.
Pukulan besar datang ketika Vajiralongkorn menjalin hubungan dengan seorang perempuan biasa bernama Yuvadhida Polpraserth, yang kemudian menjadi istri keduanya secara tidak resmi.
Dalam waktu singkat, Vajiralongkorn memiliki beberapa anak dengan Yuvadhida, sementara Soamsawali terpinggirkan.
Pangeran mahkota kemudian secara resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Soamsawali pada tahun 1991. Menariknya, Soamsawali tidak pernah menggugat balik, sehingga proses cerai hanya diinisiasi sepihak oleh Vajiralongkorn.
Dalam dokumen hukum kerajaan, Vajiralongkorn menuduh istri pertamanya itu “gagal memenuhi kewajiban sebagai istri.”
Meski bercerai secara hukum, keluarga kerajaan tetap memperlakukan Soamsawali dengan hormat. Dia tidak diasingkan seperti beberapa istri Vajiralongkorn lainnya. Sebaliknya, dia tetap diberi gelar kehormatan dan tetap tinggal di lingkungan istana.
Pada tahun 1991, setelah perceraiannya disahkan, Raja Bhumibol Adulyadej memberi Soamsawali gelar “Somdet Phra Ratchathewi”, yang berarti “Istri Kerajaan”—status kehormatan tinggi yang setara dengan permaisuri.
Dia juga diberi sebutan informal sebagai “Ibu Kerajaan” (Royal Consort Mother) karena menjadi ibu dari satu-satunya anak perempuan raja dengannya.
Gelar ini unik. Tak ada istri lain Vajiralongkorn yang diberi posisi kehormatan seperti itu. Bahkan ketika raja menikahi istri-istri berikutnya, termasuk Srirasmi Suwadee dan Ratu Suthida, status Soamsawali tidak dicabut.
Dalam acara kenegaraan dan ritual keagamaan, dia sering duduk di barisan terdepan bersama para anggota inti keluarga kerajaan.
Berbeda dengan kehidupan glamor para istri kerajaan lainnya, Soamsawali memilih jalur tenang: aktivisme sosial dan kesehatan masyarakat. Dia aktif dalam kampanye anti-HIV/AIDS sejak 1980-an, ketika epidemi AIDS mulai merebak di Thailand. Dia juga menjadi pelindung berbagai organisasi amal, termasuk Palang Merah Thailand.
Perselingkuhan dan Perceraian Kontroversial
Pukulan besar datang ketika Vajiralongkorn menjalin hubungan dengan seorang perempuan biasa bernama Yuvadhida Polpraserth, yang kemudian menjadi istri keduanya secara tidak resmi.
Dalam waktu singkat, Vajiralongkorn memiliki beberapa anak dengan Yuvadhida, sementara Soamsawali terpinggirkan.
Pangeran mahkota kemudian secara resmi mengajukan gugatan cerai terhadap Soamsawali pada tahun 1991. Menariknya, Soamsawali tidak pernah menggugat balik, sehingga proses cerai hanya diinisiasi sepihak oleh Vajiralongkorn.
Dalam dokumen hukum kerajaan, Vajiralongkorn menuduh istri pertamanya itu “gagal memenuhi kewajiban sebagai istri.”
Meski bercerai secara hukum, keluarga kerajaan tetap memperlakukan Soamsawali dengan hormat. Dia tidak diasingkan seperti beberapa istri Vajiralongkorn lainnya. Sebaliknya, dia tetap diberi gelar kehormatan dan tetap tinggal di lingkungan istana.
Dianugerahi Gelar “Ibu Kerajaan”
Pada tahun 1991, setelah perceraiannya disahkan, Raja Bhumibol Adulyadej memberi Soamsawali gelar “Somdet Phra Ratchathewi”, yang berarti “Istri Kerajaan”—status kehormatan tinggi yang setara dengan permaisuri.
Dia juga diberi sebutan informal sebagai “Ibu Kerajaan” (Royal Consort Mother) karena menjadi ibu dari satu-satunya anak perempuan raja dengannya.
Gelar ini unik. Tak ada istri lain Vajiralongkorn yang diberi posisi kehormatan seperti itu. Bahkan ketika raja menikahi istri-istri berikutnya, termasuk Srirasmi Suwadee dan Ratu Suthida, status Soamsawali tidak dicabut.
Dalam acara kenegaraan dan ritual keagamaan, dia sering duduk di barisan terdepan bersama para anggota inti keluarga kerajaan.
Berbeda dengan kehidupan glamor para istri kerajaan lainnya, Soamsawali memilih jalur tenang: aktivisme sosial dan kesehatan masyarakat. Dia aktif dalam kampanye anti-HIV/AIDS sejak 1980-an, ketika epidemi AIDS mulai merebak di Thailand. Dia juga menjadi pelindung berbagai organisasi amal, termasuk Palang Merah Thailand.
Lihat Juga :