Mengapa Indonesia Beli Jet Tempur, Kapal Perang Siluman, dan Rudal Turki? Ini Analisisnya

Kamis, 18 September 2025 - 14:00 WIB
Kemudian pada bulan Agustus, blog-blog pertahanan ramai memberitakan tentang pengerahan sistem rudal balistik KHAN—platform dengan jangkauan 280 km yang dikembangkan oleh produsen senjata Turki, Roketsan—di Tenggarong, Kalimantan Timur, provinsi yang akan menjadi lokasi ibu kota masa depan; Nusantara.

Ini menjadikannya negara pertama di Asia Tenggara yang mengoperasikan sistem balistik taktis modern tersebut secara publik.

Indonesia telah memesan rudal KHAN pada November 2022 dan merupakan kekuatan militer pertama di luar Turki yang memiliki rudal tersebut dalam inventarisnya, ungkap Wakil Manajer Umum Roketsan, Murat Kurtulus, saat itu.

Sementara itu, program Kapal Misi Litoral Batch 2 milik negara tetangga; Malaysia, saat ini sedang berlangsung dengan tiga kapal baru berbasis desain korvet kelas Ada yang sedang dibangun di Turki.

Dalam kerangka kerja sama antarpemerintah, proyek ini dikelola oleh perusahaan pertahanan Turki; STM, dan akan mengintegrasikan berbagai subsistem pertahanan Turki, termasuk meriam Aselsan SMASH 30mm dan sistem rudal antikapal Roketsan Atmaca.

Malaysia juga telah membeli drone ANKA-S MALE yang diperkirakan akan digunakan di Pulau Labuan di lepas Laut China Selatan.

Menteri Pertahanan Malaysia Mohamed Khaled Nordin mengatakan pada bulan Juli bahwa pihaknya menargetkan transfer teknologi pertahanan dari Turki di beberapa bidang yang telah diidentifikasi pada akhir tahun 2024.

Dia menambahkan bahwa transfer teknologi sangat penting untuk mengembangkan industri pertahanan Malaysia, yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan lokal, terutama di bidang-bidang seperti sistem manajemen, pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan persenjataan angkatan laut, serta pengoperasian pesawat nirawak.

Sementara itu, Filipina telah menerima enam unit helikopter serang T129 ATAK buatan Turki—dengan pasangan terakhir ditugaskan pada Mei 2024.

Dilaporkan bahwa Filipina telah menandatangani kesepakatan senilai USD270 juta pada tahun 2020.

Menurut laporan berita lokal, helikopter ini dapat menjalankan berbagai misi, termasuk pertempuran dan serangan presisi, dengan kemampuan untuk beroperasi baik siang maupun malam dalam kondisi cuaca buruk.

“Helikopter serang khusus ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan operasional tempur PAF (Angkatan Udara Filipina) dan mengatasi kesenjangan kemampuan yang teridentifikasi dalam peperangan perkotaan,” kata PAF dalam sebuah pernyataan pada 2024.

Jamil dari RSIS mencatat bahwa perusahaan pertahanan Turki kini menjadi peserta tetap di pameran pertahanan regional seperti pameran Defence Service Asia Exhibition and Conference 2024 di Kuala Lumpur, tempat produsen seperti Aselsan dan STM memamerkan sistem-sistem baru.

Dia juga merujuk pada Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition 2025, di mana 17 perusahaan Turki berpartisipasi dan menandatangani berbagai Nota Kesepahaman (MoU) dengan mitra-mitra Malaysia serta memberikan paparan berkelanjutan di seluruh kawasan, termasuk kepada delegasi Thailand dan Singapura.

Mengapa Perubahan Ini Terjadi?



Jadi, apa motivasi utama yang mendorong negara-negara Asia Tenggara untuk semakin banyak memperoleh platform dan teknologi militer dari Turki, memperluas jangkauannya melampaui pemasok tradisional, antara lain, seperti Amerika Serikat, China, dan Rusia?

Abdul Rahman Yaakob—seorang peneliti di Southeast Asia Program, Lowy Institute—mengatakan bahwa dalam kasus Indonesia, embargo senjata AS antara tahun 1999 hingga 2005 berdampak pada pemikiran strategis negara ini.

Embargo tersebut diberlakukan karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh militer Indonesia, terutama selama krisis Timor Leste.

“Bagi Angkatan Bersenjata Indonesia, diversifikasi pemasok senjata merupakan strategi penting untuk memastikan mereka memiliki pasokan senjata yang stabil dan aman, serta tidak bergantung pada kekuatan tertentu,” kata Rahman.

Dia menambahkan bahwa keterikatan dengan teknologi asing merupakan kriteria utama ketika Jakarta memutuskan platform mana yang akan diakuisisi.

“Dalam jangka panjang, Jakarta berharap dapat mengakses teknologi canggih dari mitra eksternal untuk mengembangkan industri pertahanannya sendiri. Dalam hal ini, kita telah melihat Turki setuju untuk berbagi teknologi platform militer dengan Indonesia, terutama di bidang drone dan rudal, misalnya,” ujarnya.

Kesepakatan Indonesia untuk 48 unit jet tempur KAAN mencakup transfer teknologi, perakitan lokal, dan peran industri bagi PT Dirgantara dan PT Republik Aero Dirgantara, yang memungkinkan produksi bersama.

PT Dirgantara adalah perusahaan kedirgantaraan milik negara, sementara PT Republik Aero Dirgantara adalah perusahaan pertahanan swasta.

Rahman mengatakan bahwa Turki juga bekerja sama dengan Malaysia untuk mentransfer teknologi militer di bidang sistem manajemen serta pemeliharaan, perbaikan, dan perombakan persenjataan Angkatan Laut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!