10 Alasan Rusia Mau Berunding dengan AS Soal Ukraina
Rabu, 20 Agustus 2025 - 12:30 WIB
Beberapa analis menilai Rusia menggunakan risiko perundingan bukan sebagai titik akhir konflik, melainkan sebagai taktik untuk meredakan tekanan ataupun merekayasa waktu untuk perkuatan militer.
Rusia dikenal mengalihkan fokus negosiasi ke format perdamaian daripada gencatan senjata, yang memungkinkan mereka mempertahankan tekanan militer sambil menguasai narasi diplomatik.
Sebagai imbal balik keterlibatan diplomatik, Rusia ingin mempertahankan kendali atas wilayah yang sudah dikuasainya—Donetsk, Luhansk, bahkan menuntut “freezing” wilayah seperti Kherson dan Zaporizhzhia dalam negosiasi awal.
Menurut Menlu Rusia Lavrov, posisi Rusia tetap menuntut: Ukraina menghentikan ambisi bergabung dengan NATO, Tarik mundur pasukan Ukraina dari empat wilayah yang diklaim Rusia, Jaminan hak-hak bagi penduduk berbahasa Rusia di wilayah tersebut.
Strategi ini menunjukkan perundingan digunakan sebagai landasan untuk memaksakan tuntutan geopolitik dan mempertahankan keuntungan teritorial.
Rusia sejak awal menolak ekspansi NATO, terutama ke Ukraina, yang dianggap merupakan ancaman langsung bagi keamanan nasionalnya.
Dengan membuka ruang dialog, Rusia berusaha membantah atau menunda ekspansi NATO, menjadikan negosiasi sebagai instrumen diplomasi untuk menjaga kawasan "lingkaran dekat" yang dianggap vital sebagai zona pengaruhnya.
Putin secara konsisten meremehkan legitimasi Presiden Zelensky, menyebutnya sebagai “boneka Barat” dan menolak klaim dia sebagai pihak yang bisa merepresentasikan Ukraina secara sah.
Melalui negoisasi yang tidak melibatkan langsung Zelensky atau pemerintahan resmi Ukraina, Rusia dapat: Menghindari legitimasi bagi pemerintahan Ukraina, Menggiring narasi bahwa rezim saat ini tidak mampu mewakili Ukraina secara independen.
Rusia dikenal mengalihkan fokus negosiasi ke format perdamaian daripada gencatan senjata, yang memungkinkan mereka mempertahankan tekanan militer sambil menguasai narasi diplomatik.
4. Mempertahankan Keuntungan Strategis dan Teritorial
Sebagai imbal balik keterlibatan diplomatik, Rusia ingin mempertahankan kendali atas wilayah yang sudah dikuasainya—Donetsk, Luhansk, bahkan menuntut “freezing” wilayah seperti Kherson dan Zaporizhzhia dalam negosiasi awal.
Menurut Menlu Rusia Lavrov, posisi Rusia tetap menuntut: Ukraina menghentikan ambisi bergabung dengan NATO, Tarik mundur pasukan Ukraina dari empat wilayah yang diklaim Rusia, Jaminan hak-hak bagi penduduk berbahasa Rusia di wilayah tersebut.
Strategi ini menunjukkan perundingan digunakan sebagai landasan untuk memaksakan tuntutan geopolitik dan mempertahankan keuntungan teritorial.
5. Membatasi Pengaruh NATO dan Keamanan Barat
Rusia sejak awal menolak ekspansi NATO, terutama ke Ukraina, yang dianggap merupakan ancaman langsung bagi keamanan nasionalnya.
Dengan membuka ruang dialog, Rusia berusaha membantah atau menunda ekspansi NATO, menjadikan negosiasi sebagai instrumen diplomasi untuk menjaga kawasan "lingkaran dekat" yang dianggap vital sebagai zona pengaruhnya.
6. Kendali terhadap Narasi Kepemimpinan Ukraina
Putin secara konsisten meremehkan legitimasi Presiden Zelensky, menyebutnya sebagai “boneka Barat” dan menolak klaim dia sebagai pihak yang bisa merepresentasikan Ukraina secara sah.
Melalui negoisasi yang tidak melibatkan langsung Zelensky atau pemerintahan resmi Ukraina, Rusia dapat: Menghindari legitimasi bagi pemerintahan Ukraina, Menggiring narasi bahwa rezim saat ini tidak mampu mewakili Ukraina secara independen.
7. Mengkombinasikan Diplomasi dengan Tekanan Ekonomi dan Sanksi
Lihat Juga :