4 Tanda Palestina Akan Merdeka Menurut Syekh Ahmad Yassin
Selasa, 05 Agustus 2025 - 13:17 WIB
Yassin membenarkan perubahan strategi tersebut dengan mengatakan bahwa realitas baru—sebuah produk dari "kehendak ilahi"—telah memaksakan perlunya bentuk jihad aktivis yang baru. Ia juga menawarkan lebih dari yang pernah ditawarkan PLO: sebuah jenis perjuangan khusus yang menggabungkan kemurnian moral dan aksi sosial dengan janji rahmat ilahi—bukan hanya penebusan tanah air, tetapi juga keselamatan jiwa yang tertindas.
Tak lama kemudian, Hamas mengungguli, dengan aksi-aksi kekerasannya, semua kelompok nasionalis sekuler yang sebelumnya mengejek kaum Islamis karena kelambanan mereka. Pada tahun 1989, Hamas kembali membawa Yassin ke penjara Israel, kali ini dengan hukuman seumur hidup atas dugaan keterlibatannya dalam penculikan dan pembunuhan seorang tentara Israel.
Seperti Mandela—tak terlihat, tak terdengar, namun karismatik di sel penjaranya—kini setengah buta, tuli, dan lumpuh, gengsi Yassin tumbuh tak terelakkan, sama seperti gengsi Arafat, Tuan Palestina resmi, sebuah parodi yang semakin besar dari semua yang pernah diperjuangkan Mandela, layu di bawah sorotan publisitas yang tak lagi bisa ia hindari.
Ketika berita pembunuhannya menyebar, puluhan ribu warga Palestina turun ke jalan-jalan di Gaza untuk melampiaskan kemarahan mereka. Salat jenazah digelar di Masjid al-Omari; ribuan orang salat di jalan-jalan karena masjid tersebut (masjid terbesar di Gaza) tidak mampu menampung mereka semua.
Syekh Ahmad Yasin dianggap sebagai salah satu simbol nasionalisme Palestina yang paling menonjol di abad ke-20. Ia pernah dikutip berkata: "Musuh Israel hanya memberi rakyat Palestina satu pilihan: perlawanan, perjuangan, dan mati syahid."
Tak lama kemudian, Hamas mengungguli, dengan aksi-aksi kekerasannya, semua kelompok nasionalis sekuler yang sebelumnya mengejek kaum Islamis karena kelambanan mereka. Pada tahun 1989, Hamas kembali membawa Yassin ke penjara Israel, kali ini dengan hukuman seumur hidup atas dugaan keterlibatannya dalam penculikan dan pembunuhan seorang tentara Israel.
Seperti Mandela—tak terlihat, tak terdengar, namun karismatik di sel penjaranya—kini setengah buta, tuli, dan lumpuh, gengsi Yassin tumbuh tak terelakkan, sama seperti gengsi Arafat, Tuan Palestina resmi, sebuah parodi yang semakin besar dari semua yang pernah diperjuangkan Mandela, layu di bawah sorotan publisitas yang tak lagi bisa ia hindari.
4. Hanya Ada Satu Pilihan
Melansir palquest, Yasin yang duduk di kursi roda dibunuh pada dini hari tanggal 22 Maret 2004, setelah sebuah helikopter Apache Israel menembakkan tiga rudal ke arahnya saat ia meninggalkan masjid Islamic Center di kawasan Sabra, Jalur Gaza. Tujuh rekannya tewas bersamanya, dan dua putranya terluka.Ketika berita pembunuhannya menyebar, puluhan ribu warga Palestina turun ke jalan-jalan di Gaza untuk melampiaskan kemarahan mereka. Salat jenazah digelar di Masjid al-Omari; ribuan orang salat di jalan-jalan karena masjid tersebut (masjid terbesar di Gaza) tidak mampu menampung mereka semua.
Syekh Ahmad Yasin dianggap sebagai salah satu simbol nasionalisme Palestina yang paling menonjol di abad ke-20. Ia pernah dikutip berkata: "Musuh Israel hanya memberi rakyat Palestina satu pilihan: perlawanan, perjuangan, dan mati syahid."
(ahm)
Lihat Juga :