Profil Dmitry Medvedev, Pejabat Rusia yang Ancam Trump dengan Serangan Nuklir 'Dead Hand'

Jum'at, 01 Agustus 2025 - 13:26 WIB
♦Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia sejak Januari 2020 hingga sekarang.

Selama menjabat presiden, Medvedev meluncurkan program modernisasi ekonomi dan teknologi, berusaha mengurangi ketergantungan Rusia pada minyak dan gas. Dia juga menandatangani perjanjian New-START untuk pengurangan senjata nuklir dengan AS.

Pembenci Barat yang Umbar Ancaman Nuklir



Pada dekade 2010-an, Medvedev dianggap lebih moderat dan pro-Barat. Namun sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, posisi kebijakan dan retoriknya berubah 180 derajat menjadi semakin keras dan konfrontatif dengan Barat.

Sekarang, Medvedev telah menjadi figur terdepan dalam “saber-rattling” nuklir Kremlin.

Medvedev mengecam ultimatum Donald Trump kepada Kremlin terkait perang Ukraina, dan malah membalas dengan mengingatkan sistem nuklir rahasia Soviet: "Dead Hand"—sistem serangan nuklir semi-otomatis jika kepemimpinan Rusia lumpuh.

Medvedev sebelumnya mengeklaim beberapa negara bisa "menyediakan hulu ledak nuklir ke Iran" setelah serangan AS terhadap situs nuklir Iran pada Juni lalu.

Selain itu, pada Februari 2024, dia pernah menyatakan bahwa jika Rusia dipaksa kembali ke perbatasan 1991, dampaknya bisa memicu perang nuklir besar terhadap Washington, London, Berlin, dan Kyiv.

Medvedev sering menggunakan retorika serangan nuklir sebagai alat "deterrence" dengan maksud agar Barat tidak memperluas dukungan militernya kepada Ukraina.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!