Iran Ancam Serang Seluruh Pangkalan Militer AS di Timur Tengah

Kamis, 12 Juni 2025 - 09:28 WIB
Iran dan Amerika Serikat baru-baru ini terlibat dalam kebuntuan diplomatik atas pengayaan uranium Iran, dengan Teheran membelanya sebagai hak yang "tidak dapat dinegosiasikan" dan Washington menyebutnya sebagai "garis merah".

Trump sebelumnya telah menyatakan optimisme tentang perundingan tersebut, dengan mengatakan selama lawatannya ke Teluk bulan lalu bahwa Washington "hampir" mengamankan kesepakatan.

Namun dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Rabu, Trump mengatakan bahwa dia "kurang yakin" Amerika Serikat dan Iran dapat mencapai kesepakatan. Komentar Trump itu sebagai tanggapan atas pertanyaan apakah dia yakin dapat menghentikan Teheran dari memperkaya uranium.

Iran saat ini memperkaya uranium hingga 60 persen, jauh di atas batas 3,67 persen yang ditetapkan dalam kesepakatan tahun 2015.

Sekadar diketahui, untuk membuat senjata nuklir dibutuhkan uranium yang diperkaya hingga 90 persen. Ini artinya, Iran mendekati level tersebut.

AS, Israel dan negara-negara Eropa Barat telah lama menuduh Iran berusaha memperoleh senjata nuklir. Namun, Teheran bersikeras program nuklirnya bertujuan damai.

Minggu lalu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan pengayaan uraniuam adalah "kunci" bagi program nuklir Iran dan bahwa Washington "tidak dapat memberikan pendapat" mengenai masalah tersebut.

Selama wawancara dengan podcast New York Post "Pod Force One", yang direkam pada hari Senin, Trump mengatakan bahwa dia kehilangan harapan bahwa kesepakatan nuklir Iran dapat dicapai.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!