Pria Inggris Bocorkan Rahasia Teknologi Militer AS ke China, Sebut Xi Jinping Bos
Selasa, 03 Juni 2025 - 07:13 WIB
Bayaran yang diberikan tidak main-main, yakni sebesar USD36.000. Namun, seperti dalam insiden sebelumnya, kedua orang tersebut ternyata juga berada di bawah kendali FBI.
Menanggapi kasus ini, Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyebut tindakan Miller dan Cui sebagai "serangan terang-terangan terhadap keamanan nasional dan nilai-nilai demokrasi Amerika Serikat."
“Departemen Kehakiman ini tidak akan mentoleransi penindasan asing di tanah AS, maupun membiarkan negara-negara bermusuhan menyusup dan mengeksploitasi sistem pertahanan kami,” tegas Blanche dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (3/6/2025).
Sementara itu, Jaksa Bill Essayli dari Central District of California menambahkan bahwa Amerika Serikat akan terus menggunakan seluruh perangkat hukum untuk menindak aktor-aktor asing yang terlibat dalam aktivitas kriminal di wilayah yurisdiksi AS. “Dakwaan ini menunjukkan bahwa aktor asing dari China menarget seorang warga negara kami hanya karena ia mengkritik pemerintah China dan presidennya,” ujar Essayli.
Jika terbukti bersalah, John Miller dapat menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun atas pelanggaran Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata, dan tambahan 10 tahun atas tuduhan penyelundupan.
Meski demikian, otoritas AS menegaskan bahwa dakwaan ini masih berupa tuduhan awal. "Dakwaan hanyalah sebuah tudingan. Semua terdakwa dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah tanpa keraguan yang masuk akal di pengadilan," tulis Kantor Kejaksaan Wilayah California dalam pernyataan resmi.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing, terutama terkait isu keamanan siber, teknologi militer, dan hak asasi manusia. Dugaan bahwa agen-agen asing terlibat dalam operasi di dalam negeri AS—termasuk untuk menekan suara-suara oposisi terhadap Pemerintah China—berpotensi menambah bahan bakar dalam konflik dua kekuatan global tersebut.
Sementara proses ekstradisi Miller dan Cui tengah berlangsung di Serbia, dunia internasional menanti perkembangan lebih lanjut dari kasus yang tidak hanya menyoroti perang intelijen dan spionase modern, tetapi juga kebebasan berekspresi dan dominasi geopolitik global.
Menanggapi kasus ini, Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyebut tindakan Miller dan Cui sebagai "serangan terang-terangan terhadap keamanan nasional dan nilai-nilai demokrasi Amerika Serikat."
“Departemen Kehakiman ini tidak akan mentoleransi penindasan asing di tanah AS, maupun membiarkan negara-negara bermusuhan menyusup dan mengeksploitasi sistem pertahanan kami,” tegas Blanche dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (3/6/2025).
Sementara itu, Jaksa Bill Essayli dari Central District of California menambahkan bahwa Amerika Serikat akan terus menggunakan seluruh perangkat hukum untuk menindak aktor-aktor asing yang terlibat dalam aktivitas kriminal di wilayah yurisdiksi AS. “Dakwaan ini menunjukkan bahwa aktor asing dari China menarget seorang warga negara kami hanya karena ia mengkritik pemerintah China dan presidennya,” ujar Essayli.
Jika terbukti bersalah, John Miller dapat menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun atas pelanggaran Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata, dan tambahan 10 tahun atas tuduhan penyelundupan.
Meski demikian, otoritas AS menegaskan bahwa dakwaan ini masih berupa tuduhan awal. "Dakwaan hanyalah sebuah tudingan. Semua terdakwa dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah tanpa keraguan yang masuk akal di pengadilan," tulis Kantor Kejaksaan Wilayah California dalam pernyataan resmi.
Kasus ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing, terutama terkait isu keamanan siber, teknologi militer, dan hak asasi manusia. Dugaan bahwa agen-agen asing terlibat dalam operasi di dalam negeri AS—termasuk untuk menekan suara-suara oposisi terhadap Pemerintah China—berpotensi menambah bahan bakar dalam konflik dua kekuatan global tersebut.
Sementara proses ekstradisi Miller dan Cui tengah berlangsung di Serbia, dunia internasional menanti perkembangan lebih lanjut dari kasus yang tidak hanya menyoroti perang intelijen dan spionase modern, tetapi juga kebebasan berekspresi dan dominasi geopolitik global.
(mas)
Lihat Juga :