Pria Inggris Bocorkan Rahasia Teknologi Militer AS ke China, Sebut Xi Jinping Bos

Selasa, 03 Juni 2025 - 07:13 WIB
loading...
Pria Inggris Bocorkan...
John Miller, pria Inggris yang didakwa membocorkan rahasia teknologi militer AS ke China. Dalam komunikasi yang disadap, dia menyebut Presiden China Xi Jinping sebagai bos. Foto/TikTok via BBC
A A A
WASHINGTON - Seorang pria berkewarganegaraan Inggris didakwa di Amerika Serikat (AS) atas dugaan keterlibatannya dalam penyelundupan teknologi militer sensitif ke Republik Rakyat China (RRC). Dalam dakwaan yang dirilis otoritas AS, pria tersebut bahkan menyebut Presiden China Xi Jinping sebagai "The Boss" alias bosnya.

John Miller (63), yang memiliki status penduduk tetap di AS, didakwa bersama seorang pria asal China bernama Cui Guanghai (43).

Keduanya menghadapi tuduhan serius atas konspirasi penyelundupan, pelanggaran terhadap Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata (Arms Export Control Act), serta tuduhan konspirasi untuk melakukan penguntitan lintas negara bagian.

Baca Juga: Inggris Inginkan Jet Tempur Siluman F-35Bersenjata Nuklir untuk Melawan Rusia

Menurut keterangan resmi dari Departemen Kehakiman AS, baik Miller maupun Cui saat ini berada dalam tahanan di Serbia setelah ditangkap oleh otoritas setempat. Pemerintah AS kini tengah memproses permintaan ekstradisi keduanya untuk diadili di pengadilan federal.

Dalam komunikasi yang disadap, Miller, seorang spesialis rekrutmen yang berbasis di Inggris, menyebut Presiden China Xi Jinping sebagai "The Boss". Dia tertangkap dalam operasi penyamaran setelah berdiskusi dengan agen FBI yang menyamar sebagai pedagang senjata.

Kementerian Luar Negeri Inggris telah mengonfirmasi bahwa mereka memberikan bantuan konsuler kepada warganya yang ditahan sejak April 2025. Pihaknya menyatakan bahwa mereka tengah berkoordinasi dengan otoritas Serbia serta keluarga Miller.

Dalam berkas pengadilan yang diajukan di Central District of California, disebutkan bahwa Miller dan Cui terlibat dalam upaya pengadaan serta ekspor ilegal berbagai jenis peralatan militer AS, termasuk sistem rudal, radar pertahanan udara, pesawat nirawak (drone), dan perangkat kriptografi.

Keduanya bahkan sempat melakukan pembayaran uang muka sebesar USD10.000 untuk membeli sebuah alat yang digunakan untuk enkripsi dan dekripsi informasi. Alat ini merupakan bagian dari sistem komunikasi rahasia militer yang dilindungi ketat oleh regulasi ekspor AS.

Upaya penyelundupan ini dikemas dalam berbagai modus unik. Dalam dokumen dakwaan, disebutkan bahwa Miller dan Cui sempat berdiskusi dengan dua individu yang diidentifikasi sebagai "Individual 5" dan "Individual 6" mengenai cara mengirimkan perangkat kriptografi ke China.

Mereka bahkan menyebutkan kemungkinan menyamarkan alat tersebut dengan cara dikemas bersama barang-barang rumah tangga seperti blender dan motor starter—suatu metode yang digambarkan oleh otoritas sebagai teknik penyelundupan klasik yang dipadu dengan target teknologi tinggi.

Selain tuduhan penyelundupan, Miller dan Cui juga dihadapkan pada dakwaan lain yang tak kalah serius. Keduanya dituduh mencoba mengintimidasi dan menghalangi seorang aktivis anti-Pemerintah China di Amerika Serikat. Aksi itu termasuk memasang alat pelacak pada kendaraan korban serta merusak ban mobilnya.

Motif di balik tindakan tersebut diyakini berkaitan dengan kehadiran Presiden Xi Jinping dalam Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) yang berlangsung di Los Angeles pada November 2023. Sang aktivis diketahui berniat melakukan aksi protes terhadap Presiden Xi dalam acara tersebut.

Namun ternyata, dua orang yang direkrut Miller dan Cui untuk menjalankan aksi penguntitan tersebut—yang diidentifikasi sebagai "Individual 1" dan "Individual 2"—adalah agen atau informan FBI yang sengaja ditempatkan untuk memantau gerak-gerik kedua terdakwa. Informasi yang dikumpulkan dari operasi itu kemudian digunakan untuk membangun dakwaan hukum.

Dalam insiden terpisah yang terjadi pada musim semi 2025, Miller dan Cui kembali terlibat dalam skenario yang menyerupai film laga mata-mata. Ketika sang aktivis mengumumkan melalui siaran video bahwa dia akan meluncurkan dua patung yang menggambarkan Xi Jinping dan istrinya, Miller dan Cui diduga membayar dua individu lainnya—disebut sebagai "Individual 3" dan "Individual 4"—untuk membujuk sang aktivis agar tidak menayangkan karya seninya secara daring.

Bayaran yang diberikan tidak main-main, yakni sebesar USD36.000. Namun, seperti dalam insiden sebelumnya, kedua orang tersebut ternyata juga berada di bawah kendali FBI.

Menanggapi kasus ini, Wakil Jaksa Agung AS Todd Blanche menyebut tindakan Miller dan Cui sebagai "serangan terang-terangan terhadap keamanan nasional dan nilai-nilai demokrasi Amerika Serikat."

“Departemen Kehakiman ini tidak akan mentoleransi penindasan asing di tanah AS, maupun membiarkan negara-negara bermusuhan menyusup dan mengeksploitasi sistem pertahanan kami,” tegas Blanche dalam pernyataan resminya, seperti dikutip dari BBC, Selasa (3/6/2025).

Sementara itu, Jaksa Bill Essayli dari Central District of California menambahkan bahwa Amerika Serikat akan terus menggunakan seluruh perangkat hukum untuk menindak aktor-aktor asing yang terlibat dalam aktivitas kriminal di wilayah yurisdiksi AS. “Dakwaan ini menunjukkan bahwa aktor asing dari China menarget seorang warga negara kami hanya karena ia mengkritik pemerintah China dan presidennya,” ujar Essayli.

Jika terbukti bersalah, John Miller dapat menghadapi hukuman penjara hingga 20 tahun atas pelanggaran Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata, dan tambahan 10 tahun atas tuduhan penyelundupan.

Meski demikian, otoritas AS menegaskan bahwa dakwaan ini masih berupa tuduhan awal. "Dakwaan hanyalah sebuah tudingan. Semua terdakwa dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah tanpa keraguan yang masuk akal di pengadilan," tulis Kantor Kejaksaan Wilayah California dalam pernyataan resmi.

Kasus ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing, terutama terkait isu keamanan siber, teknologi militer, dan hak asasi manusia. Dugaan bahwa agen-agen asing terlibat dalam operasi di dalam negeri AS—termasuk untuk menekan suara-suara oposisi terhadap Pemerintah China—berpotensi menambah bahan bakar dalam konflik dua kekuatan global tersebut.

Sementara proses ekstradisi Miller dan Cui tengah berlangsung di Serbia, dunia internasional menanti perkembangan lebih lanjut dari kasus yang tidak hanya menyoroti perang intelijen dan spionase modern, tetapi juga kebebasan berekspresi dan dominasi geopolitik global.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Tiru Adegan TV, Istri...
Tiru Adegan TV, Istri Isap Racun dari Tangan Suami yang Digigit Kobra, Malah Ikut Keracunan
Trump Klaim Iran Setujui...
Trump Klaim Iran Setujui Hampir Semua yang Diinginkan AS Selama Negosiasi
Israel Ternyata Coba...
Israel Ternyata Coba Habisi 2 Negosiator Utama Iran, Ini yang Dilakukan AS
Tuntut Kemerdekaan dari...
Tuntut Kemerdekaan dari China, Pria Tibet Tewas Bakar Diri di Luar Markas PBB
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jerman Berani Menolak...
Jerman Berani Menolak Loyal pada AS: 'Sesama Anggota NATO Jangan Mendikte!'
TikTok soal Kabar PHK...
TikTok soal Kabar PHK 90% Karyawan Tokopedia: Ini Bukan Keputusan Mudah
Studi Ungkap Gurita...
Studi Ungkap Gurita Politik China dalam Jaringan Kriminal di Asia Tenggara
Horor! Demonstran Bakar...
Horor! Demonstran Bakar Diri hingga Tewas di Depan Markas Besar PBB New York
Rekomendasi
Gugat Polda Metro, Roy...
Gugat Polda Metro, Roy Suryo Kembali Ajukan Praperadilan Terkait Penetapan Tersangka
Menuju Fungsional, Hutama...
Menuju Fungsional, Hutama Karya Catatkan Progres Signifikan Sekolah Rakyat DKI Jakarta dan Banten untuk Tahun Ajaran Baru
Purbaya Tepis Kabar...
Purbaya Tepis Kabar Disebut Incar Influencer dan Toko Online: Tegaskan Pajak Demi Keadilan
Berita Terkini
Israel Berupaya Provokasi...
Israel Berupaya Provokasi Konflik antara Tentara Lebanon dan Hizbullah
Jenazah Ali Khamenei...
Jenazah Ali Khamenei Tiba di Masjid Agung Mosalla di Teheran
Tiru Adegan TV, Istri...
Tiru Adegan TV, Istri Isap Racun dari Tangan Suami yang Digigit Kobra, Malah Ikut Keracunan
Trump Klaim Iran Setujui...
Trump Klaim Iran Setujui Hampir Semua yang Diinginkan AS Selama Negosiasi
Israel Ternyata Coba...
Israel Ternyata Coba Habisi 2 Negosiator Utama Iran, Ini yang Dilakukan AS
Tuntut Kemerdekaan dari...
Tuntut Kemerdekaan dari China, Pria Tibet Tewas Bakar Diri di Luar Markas PBB
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved