Jerman Janji Bantu Ukraina Produksi Rudal Jarak Jauh yang Mampu Serang Rusia
Kamis, 29 Mei 2025 - 06:13 WIB
“Menteri pertahanan kami akan menandatangani nota kesepahaman hari ini mengenai pengadaan sistem senjata jarak jauh buatan Ukraina,” kata Merz kepada wartawan di Berlin.
“Kami juga ingin memastikan produksi bersama, tetapi kami tidak akan mengungkapkan rinciannya kepada publik,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa tidak akan ada pembatasan jangkauan pada senjata-senjata tersebut dan bahwa Kyiv akan diizinkan untuk menyerang target-target di luar wilayahnya sendiri.
Merz mengelak dari pertanyaan wartawan tentang apakah Berlin juga akan menyediakan rudal jelajah Taurus untuk Ukraina, yang mampu menjangkau ibu kota Rusia.
Surat kabar Bild melaporkan pada hari Selasa, mengutip beberapa sumber, bahwa Jerman tidak mungkin memasok rudal Taurus, mengingat bahwa para pejabat di Berlin memandang isu tersebut sebagai “tabu", karena khawatir hal itu dapat menyebabkan eskalasi besar-besaran.
Moskow telah mengecam inisiatif Merz. "Jerman bersaing dengan Prancis untuk mendapatkan keunggulan dalam memprovokasi perang lebih lanjut," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (29/5/2025).
“Kami juga ingin memastikan produksi bersama, tetapi kami tidak akan mengungkapkan rinciannya kepada publik,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa tidak akan ada pembatasan jangkauan pada senjata-senjata tersebut dan bahwa Kyiv akan diizinkan untuk menyerang target-target di luar wilayahnya sendiri.
Merz mengelak dari pertanyaan wartawan tentang apakah Berlin juga akan menyediakan rudal jelajah Taurus untuk Ukraina, yang mampu menjangkau ibu kota Rusia.
Surat kabar Bild melaporkan pada hari Selasa, mengutip beberapa sumber, bahwa Jerman tidak mungkin memasok rudal Taurus, mengingat bahwa para pejabat di Berlin memandang isu tersebut sebagai “tabu", karena khawatir hal itu dapat menyebabkan eskalasi besar-besaran.
Moskow telah mengecam inisiatif Merz. "Jerman bersaing dengan Prancis untuk mendapatkan keunggulan dalam memprovokasi perang lebih lanjut," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, seperti dikutip dari Russia Today, Kamis (29/5/2025).
Lihat Juga :