Kisah Menarik Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa, Dulu Bantai Tentara AS Kini Berdiri Sejajar dengan Donald Trump
Jum'at, 16 Mei 2025 - 19:15 WIB
Semangat perjuangannya terpicu saat Intifada Kedua Palestina pada 2000. al-Sharaa yang masih berusia antara 17 atau 18 tahun tergerak hatinya untuk membela orang yang ditindas oleh penjajah Israel.
Beberapa tahun berlalu, al-Shaara justru pergi ke Irak dan bergabung dengan Al Qaeda pada 2003. Di sana, ia membantu kelompok tersebut saat melawan invasi Amerika Serikat (AS).
Al-Shaara kemudian ditangkap pada 2006 dan ditahan selama lima tahun. Setelah bebas pada 2011, ia kembali ke Suriah dan mendirikan Front al-Nusra, cabang Al Qaeda yang dengan cepat menjadi kekuatan besar.
Pada 2013, AS menetapkannya sebagai teroris global dan menawarkan hadiah besar untuk penangkapannya.
Di samping itu, ia akhirnya memisahkan diri dari jaringan Al-Qaeda pada 2016 untuk membentuk Hayat Tahrir al-Sham (HTS).
Sejak pendirian HTS, al-Sharaa mulai mengubah citra dirinya dari kelompok jihadis global menjadi kekuatan nasionalis yang fokus pada penggulingan rezim Assad di Suriah.
Ia bahkan mulai mengganti sorban dengan seragam militer, menjanjikan perlindungan bagi minoritas agama, dan membangun pemerintahan lokal di Idlib yang menyediakan layanan sipil seperti pendidikan dan kesehatan.
Beberapa tahun berlalu, al-Shaara justru pergi ke Irak dan bergabung dengan Al Qaeda pada 2003. Di sana, ia membantu kelompok tersebut saat melawan invasi Amerika Serikat (AS).
Al-Shaara kemudian ditangkap pada 2006 dan ditahan selama lima tahun. Setelah bebas pada 2011, ia kembali ke Suriah dan mendirikan Front al-Nusra, cabang Al Qaeda yang dengan cepat menjadi kekuatan besar.
Pada 2013, AS menetapkannya sebagai teroris global dan menawarkan hadiah besar untuk penangkapannya.
Di samping itu, ia akhirnya memisahkan diri dari jaringan Al-Qaeda pada 2016 untuk membentuk Hayat Tahrir al-Sham (HTS).
Sejak pendirian HTS, al-Sharaa mulai mengubah citra dirinya dari kelompok jihadis global menjadi kekuatan nasionalis yang fokus pada penggulingan rezim Assad di Suriah.
Ia bahkan mulai mengganti sorban dengan seragam militer, menjanjikan perlindungan bagi minoritas agama, dan membangun pemerintahan lokal di Idlib yang menyediakan layanan sipil seperti pendidikan dan kesehatan.
Lihat Juga :