Bill Gates dan Bisnis Vaksin: Sumbang Rp2,6 Triliun tapi Minta Uji Vaksin TBC pada Rakyat Indonesia

Jum'at, 09 Mei 2025 - 10:01 WIB
♦WHO (World Health Organization), di mana yayasan Gates adalah salah satu penyumbang non-pemerintah terbesar ke WHO, mengalahkan banyak negara.



Kritik dan Kekhawatiran Publik

1. Sentralisasi Kekuasaan di Tangan Filantropis



Beberapa ahli dan jurnalis menyoroti bagaimana Gates, meski bukan pejabat publik atau ilmuwan medis, memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah kebijakan global tentang vaksin dan penyakit menular.

2. Potensi Konflik Kepentingan dengan Perusahaan Farmasi



Gates Foundation diketahui menginvestasikan dana ke perusahaan farmasi.

Contohnya BioNTech (pengembang vaksin Covid-19 Pfizer), di mana Gates Foundation menginvestasikan USD55 juta pada tahun 2019. Saham itu kemudian meningkat nilainya secara signifikan saat pandemi.

Kemudian ada CureVac, perusahaan Jerman yang menerima dana riset dari Gates.

Kritik muncul karena BMGF bisa mendapat keuntungan finansial dari investasi yang sejajar dengan keputusan kebijakan vaksinasi global yang turut mereka pengaruhi.

3. Program Eksperimental di Negara Berkembang



Beberapa program vaksinasi yang didukung Gates di Afrika dan Asia Selatan telah dikritik karena minimnya pengawasan etis, kurangnya persetujuan informasi yang benar dari peserta, penolakan dan protes dari komunitas lokal.

Contohnya program vaksin HPV di India pada 2009 yang melibatkan remaja perempuan berusia 9–15 tahun mengalami kematian dan efek samping. Proyek ini kemudian dihentikan setelah penyelidikan Parlemen India.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!