Israel Murka Maskapai AS Setop Penerbangan usai Serangan Rudal Houthi
Selasa, 06 Mei 2025 - 21:30 WIB
Pasukan keamanan Israel mengambil tindakan setelah kelompok Houthi Yaman menyerang Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, Israel pada 4 Mei 2025. Foto/Saeed Qaq/Anadolu Agency
TEL AVIV - Israel mengkritik tajam maskapai penerbangan Amerika Serikat (AS) karena menangguhkan penerbangan ke Tel Aviv setelah serangan rudal Houthi di bandara Ben Gurion selama akhir pekan.
Serangan itu, yang diklaim kelompok Houthi Yaman, menargetkan bandara, menyebabkan ribuan pelancong Israel terlantar di luar negeri dan mendorong beberapa maskapai penerbangan internasional untuk menangguhkan penerbangan mereka ke Israel.
Konsul Jenderal Israel di New York, Ofir Akunis, mengkritik maskapai penerbangan AS karena membatalkan penerbangan mereka setelah serangan rudal.
Dia menggambarkan keputusan itu sebagai pengiriman "pesan yang meresahkan" yang dapat diartikan sebagai menyerah pada Houthi.
Akunis mengatakan jika mereka benar-benar sekutu, maka solidaritas harus ditunjukkan di masa-masa sulit maupun di masa-masa nyaman.
Dia secara khusus mengkritik United Airlines, menggambarkan keputusannya menghentikan penerbangan selama seminggu sebagai "tidak pantas" dan menekankan perlunya tanggapan yang bersatu dan tegas terhadap apa yang disebutnya "organisasi teroris".
Serangan itu, yang diklaim kelompok Houthi Yaman, menargetkan bandara, menyebabkan ribuan pelancong Israel terlantar di luar negeri dan mendorong beberapa maskapai penerbangan internasional untuk menangguhkan penerbangan mereka ke Israel.
Konsul Jenderal Israel di New York, Ofir Akunis, mengkritik maskapai penerbangan AS karena membatalkan penerbangan mereka setelah serangan rudal.
Dia menggambarkan keputusan itu sebagai pengiriman "pesan yang meresahkan" yang dapat diartikan sebagai menyerah pada Houthi.
Akunis mengatakan jika mereka benar-benar sekutu, maka solidaritas harus ditunjukkan di masa-masa sulit maupun di masa-masa nyaman.
Dia secara khusus mengkritik United Airlines, menggambarkan keputusannya menghentikan penerbangan selama seminggu sebagai "tidak pantas" dan menekankan perlunya tanggapan yang bersatu dan tegas terhadap apa yang disebutnya "organisasi teroris".
Lihat Juga :