5 Alasan Raja Salman Ingin Lunasi Semua Utang Suriah ke Bank Dunia

Kamis, 17 April 2025 - 02:20 WIB

4. Membendung Pengaruh Turki di Suriah

Dalam pandangan Hesham Alghannam, peneliti Malcolm H. Kerr Carnegie Middle East Center, mengungkapkan Arab Saudi menjadi sangat khawatir tentang masa depan Suriah setelah penggulingan Bashar Al Assad.

"Turki memperluas otoritasnya atas Suriah utara melalui kehadiran militernya di sana dan dukungannya terhadap faksi-faksi Suriah yang dapat berusaha mengatur ulang pengaturan kekuasaan yang merugikan Arab Saudi," kata Alghannam.

5. Memperkuat Pengaruh di Damaskus

Penggulingan rezim di Damaskus juga telah mengubah dinamika bagi Iran, yang telah membantu mempertahankan kekuasaan Assad dan sekarang berjuang mencari cara untuk mendapatkan kembali sebagian pengaruhnya atas negara tersebut—sebuah prospek yang ditakuti oleh Riyadh.

Selain itu, Israel telah muncul sebagai duri dalam daging bagi Saudi dengan melemahkan rezim Suriah yang baru dan angkatan bersenjatanya, dan juga dengan membangun hubungan politik dan ekonomi dengan tokoh-tokoh Druze untuk mendapatkan pengaruh atas komunitas tersebut.

"Dengan demikian, Arab Saudi berada dalam kondisi waspada. Keprihatinan utamanya adalah mencegah konflik sektarian di Suriah dan memastikan keamanan di sepanjang perbatasannya dengan Yordania dan Irak, yang rentan terhadap limpahan dari Suriah—baik ideologi Islam Sunni garis keras, aktivitas milisi proksi Iran, atau perdagangan Captagon," ungkap Alghannam.

Kepentingan jangka panjangnya terletak pada menghidupkan kembali pengaruh Saudi di Suriah serta di kawasan secara keseluruhan. Perasaan di Riyadh adalah bahwa Arab Saudi harus mengkalibrasi ulang strateginya terhadap Suriah untuk mencapai keseimbangan antara menstabilkan negara di satu sisi dan melawan meningkatnya pengaruh Turki, Iran, dan Israel di sisi lain.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!