Ukraina Setuju Gencatan Senjata 30 Hari, Ini Respons Rusia
Kamis, 13 Maret 2025 - 08:00 WIB
"Jika [Putin] menerima usulan AS, itu akan mengarah pada situasi yang berbahaya," kata pakar pro-Kremlin yang juga mantan ajudan Putin, Sergei Markov, kepada BBC.
Alasannya, kata dia, tentara Rusia saat ini memiliki keunggulan di garis depan dan mungkin akan kehilangan momen tersebut.
Ada juga kekhawatiran bahwa Ukraina dapat menggunakan gencatan senjata selama sebulan untuk mempersenjatai kembali, sehingga Rusia dapat mengajukan beberapa persyaratan, seperti menuntut diakhirinya pasokan senjata Barat ke Kyiv.
"Syaratnya adalah selama periode ini, embargo harus diberlakukan pada pasokan senjata ke Ukraina...Eropa harus mendukung gencatan senjata di Eropa, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan," kata Markov.
Jika Putin menerima usulan AS tersebut, Markov bersugesti opini publik dapat menjadi faktor. "Masyarakat Rusia lelah dengan perang," ujarnya.
Meskipun benar bahwa beberapa survei baru-baru ini menunjukkan semakin banyaknya persentase penduduk Rusia yang mendukung pelaksanaan perundingan damai dengan Ukraina, masih jauh dari jelas bahwa opini publik akan memengaruhi keputusan Putin.
Jalan potensial lain bagi Rusia adalah menerima gencatan senjata dan kemudian menyalahkan pelanggaran apa pun pada "provokasi" Ukraina, dengan harapan mendiskreditkan Kyiv di mata Presiden AS Donald Trump.
Setelah Rusia merebut Crimea pada tahun 2014, banyak upaya dilakukan untuk melaksanakan gencatan senjata antara Moskow dan Kyiv. Semuanya gagal.
Jika upaya ini berhasil, itu akan menjadi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di luar kebungkaman Kremlin, pengumuman proposal gencatan senjata—yang paling rinci dari jenisnya sejak dimulainya perang Moskow di Ukraina—dibahas secara terbuka di media Rusia.
Dalam beberapa kasus, ada kegembiraan atas apa yang mereka lihat sebagai Ukraina yang tunduk pada tuntutan AS, di mana surat kabar Komsomolskaya Pravda berpendapat Gedung Putih telah "mengalahkan" Kyiv.
Alasannya, kata dia, tentara Rusia saat ini memiliki keunggulan di garis depan dan mungkin akan kehilangan momen tersebut.
Ada juga kekhawatiran bahwa Ukraina dapat menggunakan gencatan senjata selama sebulan untuk mempersenjatai kembali, sehingga Rusia dapat mengajukan beberapa persyaratan, seperti menuntut diakhirinya pasokan senjata Barat ke Kyiv.
"Syaratnya adalah selama periode ini, embargo harus diberlakukan pada pasokan senjata ke Ukraina...Eropa harus mendukung gencatan senjata di Eropa, bukan dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan," kata Markov.
Jika Putin menerima usulan AS tersebut, Markov bersugesti opini publik dapat menjadi faktor. "Masyarakat Rusia lelah dengan perang," ujarnya.
Meskipun benar bahwa beberapa survei baru-baru ini menunjukkan semakin banyaknya persentase penduduk Rusia yang mendukung pelaksanaan perundingan damai dengan Ukraina, masih jauh dari jelas bahwa opini publik akan memengaruhi keputusan Putin.
Jalan potensial lain bagi Rusia adalah menerima gencatan senjata dan kemudian menyalahkan pelanggaran apa pun pada "provokasi" Ukraina, dengan harapan mendiskreditkan Kyiv di mata Presiden AS Donald Trump.
Setelah Rusia merebut Crimea pada tahun 2014, banyak upaya dilakukan untuk melaksanakan gencatan senjata antara Moskow dan Kyiv. Semuanya gagal.
Jika upaya ini berhasil, itu akan menjadi sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di luar kebungkaman Kremlin, pengumuman proposal gencatan senjata—yang paling rinci dari jenisnya sejak dimulainya perang Moskow di Ukraina—dibahas secara terbuka di media Rusia.
Dalam beberapa kasus, ada kegembiraan atas apa yang mereka lihat sebagai Ukraina yang tunduk pada tuntutan AS, di mana surat kabar Komsomolskaya Pravda berpendapat Gedung Putih telah "mengalahkan" Kyiv.
Lihat Juga :