Para Seniman Arab Boikot UEA karena Normalisasi Hubungan dengan Israel
Jum'at, 04 September 2020 - 14:23 WIB
"Hari yang menyedihkan dan bencana," tulis penulis Emirat, Dhabiya Khamis, menyusul pengumuman mengejutkan dari Presiden AS Donald Trump tentang kesepakatan itu pada 13 Agustus.
"Tidak untuk normalisasi antara Israel dan Emirat serta negara-negara Teluk Arab!," lanjut Khamis. "Israel adalah musuh seluruh bangsa Arab."
UEA dalam beberapa tahun terakhir telah menginvestasikan banyak uang dalam budaya, termasuk Louvre Abu Dhabi, cabang dari museum Paris yang ikonik, yang dibuka pada 2017.
Negara Teluk yang kaya minyak itu juga mendanai beberapa penghargaan sastra, seperti The Sheikh Zayed Book Prize, yang diambil dari nama mantan presiden Emirat, yang membagikan medali emas dan hadiah uang tunai dengan total sekitar USD1,9 juta setiap tahun.
Penulis Maroko; Zohra Ramij, telah mengumumkan penarikan novel terbarunya dari kompetisi, sementara penyair Maroko; Mohamed Bennis, mengundurkan diri dari panitia penyelenggara.
"Merupakan dosa untuk mendapatkan hadiah Emirat," kata penulis Palestina Ahmed Abu Salim, yang menarik dirinya dari International Prize for Arabic Fiction (IPAF). (Baca juga: Megawati Klaim Masih Ada yang Memanas-manasi Maju Pilpres )
Kompetisi yang dimulai pada 2007 dan dibimbing oleh Booker Prize Foundation di London ini didanai oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi.
Kompetisi ini memberikan USD50.000 kepada pemenang dan masing-masing USD10.000 untuk mereka yang terpilih.
"Saya adalah pendukung intelektual perjuangan Palestina, berapa pun harga yang harus dibayar," kata Salim kepada AFP.
"Tidak untuk normalisasi antara Israel dan Emirat serta negara-negara Teluk Arab!," lanjut Khamis. "Israel adalah musuh seluruh bangsa Arab."
UEA dalam beberapa tahun terakhir telah menginvestasikan banyak uang dalam budaya, termasuk Louvre Abu Dhabi, cabang dari museum Paris yang ikonik, yang dibuka pada 2017.
Negara Teluk yang kaya minyak itu juga mendanai beberapa penghargaan sastra, seperti The Sheikh Zayed Book Prize, yang diambil dari nama mantan presiden Emirat, yang membagikan medali emas dan hadiah uang tunai dengan total sekitar USD1,9 juta setiap tahun.
Penulis Maroko; Zohra Ramij, telah mengumumkan penarikan novel terbarunya dari kompetisi, sementara penyair Maroko; Mohamed Bennis, mengundurkan diri dari panitia penyelenggara.
"Merupakan dosa untuk mendapatkan hadiah Emirat," kata penulis Palestina Ahmed Abu Salim, yang menarik dirinya dari International Prize for Arabic Fiction (IPAF). (Baca juga: Megawati Klaim Masih Ada yang Memanas-manasi Maju Pilpres )
Kompetisi yang dimulai pada 2007 dan dibimbing oleh Booker Prize Foundation di London ini didanai oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Abu Dhabi.
Kompetisi ini memberikan USD50.000 kepada pemenang dan masing-masing USD10.000 untuk mereka yang terpilih.
"Saya adalah pendukung intelektual perjuangan Palestina, berapa pun harga yang harus dibayar," kata Salim kepada AFP.
Lihat Juga :