5 Negara yang Terancam setelah Donald Trump Kembali Jadi Presiden AS, 2 di Antaranya Mayoritas Muslim
Selasa, 21 Januari 2025 - 16:45 WIB
Berikutnya ada China. Menanggapi kembalinya Trump ke Gedung Putih, para pejabat di sana merasa penuh harapan tetapi tetap gelisah karena kekhawatiran terulangnya perang dagang yang menghancurkan seperti masa jabatan pertamanya.
Melansir Reuters, salah satu contohnya bisa dilihat saat Trump dulu mengenakan tarif lebih dari USD300 miliar pada impor China.
Dalam beberapa bulan terakhir, dia juga mengatakan akan mengenakan tarif setidaknya 10% di atas tarif yang telah dikenakan pada barang-barang China.
Selain perang dagang, ada lagi isu mengenai tekanan pembatasan perusahaan teknologi. Trump nantinya bisa kembali mengambil langkah untuk membatasi pengaruh China di bidang teknologi, seperti larangan pada perusahaan Huawei dan TikTok misalnya.
Belum lagi, soal isu Taiwan dan Laut China Selatan. Trump bisa saja meningkatkan dukungan terhadap Taiwan, lalu mengambil sikap lebih agresif terhadap klaim Beijing di Laut China Selatan yang dapat memicu ketegangan militer.
3. Panama
Belum lama dilantik, Donald Trump menyebut keinginan untuk membawa ingin Terusan Panama kembali di bawah kendali AS.
Hal ini tentu memicu sentimen nasionalis dan kekhawatiran di Panama sendiri yang sebenarnya mungkin sudah akrab dengan intervensi Negeri Paman Sam.
Mengutip Associated Press, Presiden Panama José Raúl Mulino menanggapi dengan tegas pernyataan Trump soal Terusan Panama.
Mengulangi perkataan beberapa waktu lalu, dia meminta AS agar mempertimbangkan keputusannya mengambil alih kembali terusan tersebut.
Mulino menambahkan terusan itu merupakan milik negaranya yang berpenduduk 4 juta jiwa. Maka dari itu, statusnya akan tetap menjadi wilayah Panama.
Sementara itu, sebagian warga Panama melihat pernyataan Trump sebagai cara untuk menekan Panama karena menginginkan hal lain. Misalnya seperti kontrol yang lebih baik atas migrasi melalui Celah Darien.
Melansir Reuters, salah satu contohnya bisa dilihat saat Trump dulu mengenakan tarif lebih dari USD300 miliar pada impor China.
Dalam beberapa bulan terakhir, dia juga mengatakan akan mengenakan tarif setidaknya 10% di atas tarif yang telah dikenakan pada barang-barang China.
Selain perang dagang, ada lagi isu mengenai tekanan pembatasan perusahaan teknologi. Trump nantinya bisa kembali mengambil langkah untuk membatasi pengaruh China di bidang teknologi, seperti larangan pada perusahaan Huawei dan TikTok misalnya.
Belum lagi, soal isu Taiwan dan Laut China Selatan. Trump bisa saja meningkatkan dukungan terhadap Taiwan, lalu mengambil sikap lebih agresif terhadap klaim Beijing di Laut China Selatan yang dapat memicu ketegangan militer.
3. Panama
Belum lama dilantik, Donald Trump menyebut keinginan untuk membawa ingin Terusan Panama kembali di bawah kendali AS. Hal ini tentu memicu sentimen nasionalis dan kekhawatiran di Panama sendiri yang sebenarnya mungkin sudah akrab dengan intervensi Negeri Paman Sam.
Mengutip Associated Press, Presiden Panama José Raúl Mulino menanggapi dengan tegas pernyataan Trump soal Terusan Panama.
Mengulangi perkataan beberapa waktu lalu, dia meminta AS agar mempertimbangkan keputusannya mengambil alih kembali terusan tersebut.
Mulino menambahkan terusan itu merupakan milik negaranya yang berpenduduk 4 juta jiwa. Maka dari itu, statusnya akan tetap menjadi wilayah Panama.
Sementara itu, sebagian warga Panama melihat pernyataan Trump sebagai cara untuk menekan Panama karena menginginkan hal lain. Misalnya seperti kontrol yang lebih baik atas migrasi melalui Celah Darien.
Lihat Juga :