Donald Trump Tebar Harapan dan Optimisme untuk Amerika
Rabu, 26 Agustus 2020 - 07:13 WIB
Para pakar strategi Partai Republik meyakini Konvensi Nasional Partai Republik akan memberikan kesempatan bagi Trump untuk menunjukkan momentum untuk bisa berkompetisi dengan rivalnya dari Partai Demokrat Joe Biden. Sebab, berdasarkan jajak pendapat nasional, Joe Biden lebih unggul dibandingkan Donald Trump dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam jajak pendapat RealClear Politics menunjukkan Biden masih solid dan belum terkalahkan dari Trump dengan selisih 7,6 poin. Pekan ini popularitas Biden mencapai sekitar 50%. Kendati demikian, jajak pendapat nasional jarang sukses memprediksi hasil pilpres dengan akurat. Pada 2016, Hillary Clinton yang jauh diunggulkan dibandingkan Trump justru kalah.
Trump sendiri akan fokus pada pencapaiannya selama empat tahun menjabat sebagai presiden, membeberkan program barunya dalam empat tahun ke depan. Dia juga sudah menyiapkan tokoh-tokoh besar yang akan menyampaikan dukungannya.
Asisten Trump, Dan Scavino, juga akan hadir selama kampanye Trump. Meski menjabat sebagai wakil kepala Staf Komunikasi Kepresidenan, Scavino sangat jarang berkomunikasi di depan umum. Ini akan menjadi momen langkanya berpidato di khalayak umum. (Baca juga: Amien Rais Kritik Naidem: DuniaPendidikan Beda dengan Pergojekan)
Partai Republik berjanji akan memberikan pesan yang menginspirasi dan positif. Itu tentu berbeda dengan karakteristik Konvensi Partai Demokrat yang dianggap mengusung kesedihan. “Trump yang dipilih untuk melindungi keluarga kita dan orang terkasih dari gerakan jahat yang merusak cara hidup kita, tetangga, sekolah, gereja, dan nilai-nilai,” kata Charlie Kirk, aktivis yang menjalankan Turning Point USA, kelompok mahasiswa konservatif.
Dalam berbagai kesempatan, Donald Trump kerap menuduh Partai Demokrat AS melakukan segala cara untuk mengalahkannya. Terutama di negara-negara bagian yang disebutnya sebagai “Blue State” karena dikuasai Partai Demokrat. Anggota Kongres Partai Demokrat AS juga menuding pemimpin lembaga pos AS Louis DeJoy, yang merupakan pendukung Trump, melakukan sabotase untuk mengganggu pemungutan suara melalui surat.
Dalam jajak pendapat RealClear Politics menunjukkan Biden masih solid dan belum terkalahkan dari Trump dengan selisih 7,6 poin. Pekan ini popularitas Biden mencapai sekitar 50%. Kendati demikian, jajak pendapat nasional jarang sukses memprediksi hasil pilpres dengan akurat. Pada 2016, Hillary Clinton yang jauh diunggulkan dibandingkan Trump justru kalah.
Trump sendiri akan fokus pada pencapaiannya selama empat tahun menjabat sebagai presiden, membeberkan program barunya dalam empat tahun ke depan. Dia juga sudah menyiapkan tokoh-tokoh besar yang akan menyampaikan dukungannya.
Asisten Trump, Dan Scavino, juga akan hadir selama kampanye Trump. Meski menjabat sebagai wakil kepala Staf Komunikasi Kepresidenan, Scavino sangat jarang berkomunikasi di depan umum. Ini akan menjadi momen langkanya berpidato di khalayak umum. (Baca juga: Amien Rais Kritik Naidem: DuniaPendidikan Beda dengan Pergojekan)
Partai Republik berjanji akan memberikan pesan yang menginspirasi dan positif. Itu tentu berbeda dengan karakteristik Konvensi Partai Demokrat yang dianggap mengusung kesedihan. “Trump yang dipilih untuk melindungi keluarga kita dan orang terkasih dari gerakan jahat yang merusak cara hidup kita, tetangga, sekolah, gereja, dan nilai-nilai,” kata Charlie Kirk, aktivis yang menjalankan Turning Point USA, kelompok mahasiswa konservatif.
Dalam berbagai kesempatan, Donald Trump kerap menuduh Partai Demokrat AS melakukan segala cara untuk mengalahkannya. Terutama di negara-negara bagian yang disebutnya sebagai “Blue State” karena dikuasai Partai Demokrat. Anggota Kongres Partai Demokrat AS juga menuding pemimpin lembaga pos AS Louis DeJoy, yang merupakan pendukung Trump, melakukan sabotase untuk mengganggu pemungutan suara melalui surat.
Lihat Juga :