Israel Bunuh 3 Putra dan 3 Cucu Pemimpin Hamas Ismail Haniyeh
Kamis, 11 April 2024 - 09:01 WIB
“Musuh berkhayal jika mereka mengira dengan membunuh anak-anak saya, kita akan mengubah posisi kita. Darah anak-anakku tidak lebih berharga daripada darah orang-orang kami yang mati syahid di Gaza, karena mereka semua adalah anak-anakku,” ungkap dia.
Pemimpin politik Hamas juga mengatakan, “Darah anak-anak saya adalah pengorbanan dalam perjalanan untuk membebaskan Palestina.”
“Kami tidak akan ragu dan tidak akan mundur, dan kami akan terus melanjutkan upaya kami untuk membebaskan Al-Quds dan Al-Aqsa,” ungkap dia.
Haniyeh juga mengomentari ancaman Israel menyerang kota Rafah di Gaza selatan, tempat sekitar 1,5 juta warga Palestina yang sebagian besar dari mereka adalah pengungsi.
“Ancaman tersebut, tidak membuat takut rakyat atau perlawanan kami. Kami tidak akan tunduk pada pemerasan yang dilakukan pendudukan, karena mereka yang menyerah tidak akan terhindar,” papar dia.
“Anda melihat singa-singa perlawanan menyerang tentara musuh setelah enam bulan berperang di Gaza, dan ini adalah bukti kegagalan musuh Zionis dalam perangnya,” ungkap dia.
Tiga putra dan tiga cucu Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas, tewas pada Rabu oleh serangan Israel terhadap mobil sipil di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza, Al-Jazeera melaporkan.
Menurut Al-Jazeera, enam orang tewas saat mereka sedang bepergian dengan mobil untuk mengucapkan selamat Idulfitri kepada anggota keluarga mereka.
Koresponden Al-Jazeera menyebutkan, serangan itu dilakukan dengan rudal yang diluncurkan drone yang langsung menargetkan mobil tersebut dan menewaskan semua orang di dalamnya, kecuali satu anak yang mengalami luka ringan dan dibawa ke Rumah Sakit Baptis Al-Ahli.
Menurut kantor berita Palestina Shehab, para korban diidentifikasi sebagai Muhammad Haniyeh; Hazem Haniyeh dan putrinya, Amal; Amir Haniyeh, putranya, Khaled dan putrinya, Razan.
Haniyeh, yang lahir di kamp pengungsi Shati pada 1962, adalah pemimpin Hamas yang memenangkan pemilu legislatif Palestina tahun 2006, dan kemudian menjadi Perdana Menteri Negara Palestina.
Pemimpin politik Hamas juga mengatakan, “Darah anak-anak saya adalah pengorbanan dalam perjalanan untuk membebaskan Palestina.”
“Kami tidak akan ragu dan tidak akan mundur, dan kami akan terus melanjutkan upaya kami untuk membebaskan Al-Quds dan Al-Aqsa,” ungkap dia.
Haniyeh juga mengomentari ancaman Israel menyerang kota Rafah di Gaza selatan, tempat sekitar 1,5 juta warga Palestina yang sebagian besar dari mereka adalah pengungsi.
“Ancaman tersebut, tidak membuat takut rakyat atau perlawanan kami. Kami tidak akan tunduk pada pemerasan yang dilakukan pendudukan, karena mereka yang menyerah tidak akan terhindar,” papar dia.
“Anda melihat singa-singa perlawanan menyerang tentara musuh setelah enam bulan berperang di Gaza, dan ini adalah bukti kegagalan musuh Zionis dalam perangnya,” ungkap dia.
Apa yang Terjadi
Tiga putra dan tiga cucu Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas, tewas pada Rabu oleh serangan Israel terhadap mobil sipil di kamp pengungsi Shati di Kota Gaza, Al-Jazeera melaporkan.
Menurut Al-Jazeera, enam orang tewas saat mereka sedang bepergian dengan mobil untuk mengucapkan selamat Idulfitri kepada anggota keluarga mereka.
Koresponden Al-Jazeera menyebutkan, serangan itu dilakukan dengan rudal yang diluncurkan drone yang langsung menargetkan mobil tersebut dan menewaskan semua orang di dalamnya, kecuali satu anak yang mengalami luka ringan dan dibawa ke Rumah Sakit Baptis Al-Ahli.
Menurut kantor berita Palestina Shehab, para korban diidentifikasi sebagai Muhammad Haniyeh; Hazem Haniyeh dan putrinya, Amal; Amir Haniyeh, putranya, Khaled dan putrinya, Razan.
Siapakah Ismail Haniyeh?
Haniyeh, yang lahir di kamp pengungsi Shati pada 1962, adalah pemimpin Hamas yang memenangkan pemilu legislatif Palestina tahun 2006, dan kemudian menjadi Perdana Menteri Negara Palestina.
Lihat Juga :