Gagal Perpanjang Embargo Senjata, AS Bersiap Aktifkan Klausul 'Snapback'
Minggu, 16 Agustus 2020 - 07:29 WIB
"Dalam beberapa hari mendatang, Amerika Serikat akan menindaklanjuti janji itu untuk tidak berhenti memperpanjang embargo senjata," sambungnya.
Berbicara beberapa saat setelah pemungutan suara DK PBB, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Trump Robert O’Brien mengatakan bahwa itu adalah hasil yang mengecewakan namun tidak mengejutkan.
O'Brien memperingatkan bahwa AS memiliki alat lain dan akan mengambil beberapa tindakan berat di PBB. Ia juga mengatakan bahwa dia memperkirakan sanksi snapback akan mulai berlaku.
Dia mencatat bahwa itu belum berakhir. "Kami kalah hari ini, tapi ini belum berakhir," tegasnya.
Langkah "snapback" kemungkinan akan memicu perlawanan sengit dari China, Rusia dan mungkin anggota DK PBB lainnya. Negara-negara itu berpendapat bahwa dengan menarik diri dari perjanjian nuklir Iran, AS tidak dapat menggunakan sebagian klausul perjanjian itu untuk keuntungannya.
"Setelah keluar dari JCPoA, AS tidak lagi menjadi peserta JCPoA dan oleh karena itu tidak memenuhi syarat untuk menuntut Dewan Keamanan meminta snapback," kata Duta Besar China Zhang Jun dalam sebuah pernyataan setelah pemungutan suara.
“Mayoritas anggota Dewan Keamanan percaya bahwa upaya AS tidak memiliki dasar hukum,” imbuhnya. "Jika AS bersikeras terlepas dari opini internasional, itu pasti gagal seperti hari ini," cetusnya.
Diplomat China tersebut kemudian menuduh AS telah meninggalkan kewajiban internasionalnya, dan menarik diri dari perjanjian multilateral serta organisasi internasional, menghancurkan kredibilitasnya sendiri.
Berbicara beberapa saat setelah pemungutan suara DK PBB, Penasihat Keamanan Nasional Presiden Trump Robert O’Brien mengatakan bahwa itu adalah hasil yang mengecewakan namun tidak mengejutkan.
O'Brien memperingatkan bahwa AS memiliki alat lain dan akan mengambil beberapa tindakan berat di PBB. Ia juga mengatakan bahwa dia memperkirakan sanksi snapback akan mulai berlaku.
Dia mencatat bahwa itu belum berakhir. "Kami kalah hari ini, tapi ini belum berakhir," tegasnya.
Langkah "snapback" kemungkinan akan memicu perlawanan sengit dari China, Rusia dan mungkin anggota DK PBB lainnya. Negara-negara itu berpendapat bahwa dengan menarik diri dari perjanjian nuklir Iran, AS tidak dapat menggunakan sebagian klausul perjanjian itu untuk keuntungannya.
"Setelah keluar dari JCPoA, AS tidak lagi menjadi peserta JCPoA dan oleh karena itu tidak memenuhi syarat untuk menuntut Dewan Keamanan meminta snapback," kata Duta Besar China Zhang Jun dalam sebuah pernyataan setelah pemungutan suara.
“Mayoritas anggota Dewan Keamanan percaya bahwa upaya AS tidak memiliki dasar hukum,” imbuhnya. "Jika AS bersikeras terlepas dari opini internasional, itu pasti gagal seperti hari ini," cetusnya.
Diplomat China tersebut kemudian menuduh AS telah meninggalkan kewajiban internasionalnya, dan menarik diri dari perjanjian multilateral serta organisasi internasional, menghancurkan kredibilitasnya sendiri.
Lihat Juga :