Sejarah Konflik China-Filipina dalam Sengketa Laut China Selatan

Rabu, 06 Maret 2024 - 13:30 WIB
Mendapati kondisi yang semakin panas, Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr beberapa waktu lalu menyebut bahwa misi utama militernya telah beralih dari memerangi komunis dan kelompok separatis menjadi mempertahankan perbatasan negara.

Berbeda dengan pendahulunya, Rodrigo Duterte, Marcos juga berupaya meningkatkan hubungan pertahanan Filipina dengan AS.

Sekitar Februari 2023, pemerintahannya bahkan sudah memberi Washington akses ke empat pangkalan militer yang memungkinkan pelatihan bersama tentara AS dan Filipina, penempatan peralatan hingga pembangunan fasilitas pertahanan.

Memasuki bulan April, militer Filipina-AS mengadakan latihan gabungan terbesar yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Sebulan berselang, Pentagon membuat komitmen eksplisit untuk membela Filipina apabila negara itu diserang di Laut Cina Selatan.

Menyikapi kondisi ini, para analis menduga bahwa pengumuman tersebut bertujuan untuk mengirimkan peringatan kepada China.

Namun, di sisi lain Beijing juga mengkritik keputusan Manila dengan memperkuat hubungan bersama AS dan menganggapnya berpotensi menyeret Filipina ke dalam jurang perselisihan geopolitik.

Demikianlah ulasan mengenai sejarah konflik China-Filipina di Laut China Selatan yang bisa diketahui.

Baca juga: Hamas Respons Rencana Gencatan Senjata yang Didukung AS
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!