Bagaimana Israel Menghancurkan Masa Depan Anak-anak di Gaza?

Minggu, 28 Januari 2024 - 21:21 WIB
Euro-Med mengatakan bahwa akan sangat sulit untuk kembali menjadi akademisi pasca perang setelah besarnya kehancuran kehidupan dan harta benda.

Menurut Biro Statistik Pusat Palestina pada tahun 2018, warga Palestina merupakan salah satu negara dengan tingkat melek huruf tertinggi di dunia. Lulusan Palestina akhirnya memiliki prestasi tinggi di berbagai bidang seperti matematika, teknik, dan bisnis.

6. 4.328 Siswa Tewas



Foto/Reuters

Hingga 16 Januari, menurut Kementerian Pendidikan Palestina, hingga 4.327 siswa tewas dan 7.819 lainnya terluka.

7. Tidak Ada Kepastian Siswa Akan Sekolah Lagi



Foto/Reuters

Tidak ada kepastian kapan siswa di Gaza akan kembali bersekolah seiring berlanjutnya perang Israel. Kemungkinan akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, untuk memperbaiki seluruh gedung sekolah yang rusak.

Ada rencana untuk meluncurkan e-learning untuk siswa sekolah Gaza. Namun pengajaran akan diberikan dari Tepi Barat yang diduduki, menurut Kementerian Pendidikan Palestina.

Model e-learning akan sulit diterapkan di Gaza, di mana pemadaman telekomunikasi sering terjadi dan siswa serta guru tidak memiliki akses terhadap listrik dan internet yang stabil. Terlebih lagi, sebagian besar orang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan berlindung di kamp pengungsian.

“Tidak mungkin ada e-learning. Tidak ada tempat berlindung, tidak ada internet, dan tidak ada kondisi yang sesuai,” kata Amer, guru sains dari Gaza.

Sementara itu, sekolah-sekolah dan universitas-universitas di Tepi Barat yang diduduki sudah beralih ke model e-learning dengan kelas online karena penggerebekan dan kekerasan pemukim meningkat secara dramatis sejak 7 Oktober. Hal ini mencakup 55 sekolah yang berlokasi di “zona jahitan” Tepi Barat – sebuah wilayah yang dipisahkan dari wilayah Tepi Barat lainnya yang diduduki oleh tembok pemisah Israel.

Tepi Barat yang diduduki telah terguncang akibat meningkatnya serangan pemukim dan pasukan Israel, dengan setidaknya 371 warga Palestina dibunuh oleh pasukan dan pemukim Israel sejak 7 Oktober.

Sejak sekolahnya terpaksa ditutup, Amer bertemu dengan beberapa siswanya di depan umum atau berbicara dengan mereka secara online. Tiga muridnya tewas dalam perang dan beberapa dari mereka kehilangan rumah. Para pelajar di Gaza, katanya, membutuhkan dukungan psikologis atas trauma yang mereka derita akibat perang.

“Saya ingin mendukung mereka secara psikologis, namun keadaan yang mereka jalani sulit,” katanya.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!