Kenapa Orang Singapura Enggan Memiliki Mobil? Biaya Sertifikat Kepemilikan Mencapai Rp1,2 Miliar

Jum'at, 06 Oktober 2023 - 02:30 WIB
Ricky Goh, seorang dealer mobil setempat, mengatakan dia “hampir pingsan” ketika mendengar kenaikan harga. “Penjualan sudah sangat buruk. Selain itu, hal ini akan berdampak lebih buruk bagi bisnis,” katanya kepada CNN.

Wong Hui Min, ibu dari dua anak, mengatakan dia mungkin perlu memikirkan kembali ketergantungannya pada mobil meski sebagian besar digunakan untuk keluarganya.

“Saya sering berlarian, mengantar anak-anak saya ke dan dari sekolah, juga untuk kegiatan lain seperti les renang dan les. Aku butuh mobilku. Naik taksi atau berbagi tumpangan ke mana pun tidak nyaman bagi saya,” katanya.

“Sebuah keluarga di Singapura rata-rata harus menabung bertahun-tahun hanya untuk membeli mobil guna membantu memenuhi kebutuhan mereka,” lanjut Wong, sambil menambahkan, “Saya tidak tahu apakah saya mampu mempertahankan mobil saya dalam jangka panjang.”

Bagi sebagian orang, pengumuman tersebut hanyalah pukulan finansial terbaru.

Baca Juga: 5 Alasan Singapura Menjadi Surga Pencucian Uang, Salah Satunya Disalurkan Melalui Kripto dan Kasino

Penduduk setempat mengatakan bahwa hidup di Singapura, yang sudah menempati peringkat kota termahal di dunia, menjadi sangat mahal dalam beberapa tahun terakhir di tengah inflasi yang terus-menerus, meningkatnya biaya perumahan umum, dan melambatnya perekonomian.

Namun para pendukung sistem kuota mengatakan sistem ini telah membantu Singapura terhindar dari kemacetan yang biasa terjadi di ibu kota Asia Tenggara lainnya seperti Bangkok, Jakarta dan Hanoi.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!