Polisi Pembunuh Nahel Malah Disumbang Rp15,7 Miliar, Publik Prancis Makin Marah
Rabu, 05 Juli 2023 - 04:00 WIB
Politisi sayap kiri David Guiraud menulis di Twitter: “Pesan yang diasumsikan adalah bunuh orang Arab, dan Anda akan menjadi jutawan, dan pemerintah menyaksikan kengerian ini berlalu tanpa mengatakan apa-apa ketika telah menutup pot [penggalan dana] rompi kuning dalam 2 hari yang menghantam seorang polisi. Menjijikkan."
Kelompok aktivis Prancis Sleeping Giants men-tweet: “Keberadaan dana untuk petugas polisi pembunuh Nahel mengobarkan sentimen ketidakadilan dan memperparah ketegangan.”
Di tengah kerusuhan, yang sering menampilkan vandalisme dan bentrokan pengunjuk rasa dengan polisi, Prancis telah mengerahkan 45.000 petugas ke jalan setiap malam untuk memadamkan kerusuhan di berbagai kota termasuk Paris, Strasbourg, Marseille, dan Nice.
Pada hari Senin, demonstrasi dimulai di balai kota Ibu Kota Prancis menentang kerusuhan, di mana terjadi kekerasan dan penjarahan.
Disebut sebagai "mobilisasi warga untuk kembali ke tatanan republik", demonstrasi antihuru-hara terjadi setelah rumah wali kota pinggiran kota Paris ditabrak mobil yang terbakar.
Nenek Nahel, Nadia, mengatakan kepada BFM TV bahwa perusuh menggunakan kematian cucunya sebagai dalih untuk memicu kekacauan.
“Saya memberitahu mereka untuk menghentikannya. Ibu-ibu yang naik bus, ibu-ibu yang berjalan di luar. Kita harus menenangkan sesuatu, kita tidak ingin mereka merusak sesuatu,” katanya.
"Nahel sudah mati, hanya itu yang ada."
Kelompok aktivis Prancis Sleeping Giants men-tweet: “Keberadaan dana untuk petugas polisi pembunuh Nahel mengobarkan sentimen ketidakadilan dan memperparah ketegangan.”
Di tengah kerusuhan, yang sering menampilkan vandalisme dan bentrokan pengunjuk rasa dengan polisi, Prancis telah mengerahkan 45.000 petugas ke jalan setiap malam untuk memadamkan kerusuhan di berbagai kota termasuk Paris, Strasbourg, Marseille, dan Nice.
Pada hari Senin, demonstrasi dimulai di balai kota Ibu Kota Prancis menentang kerusuhan, di mana terjadi kekerasan dan penjarahan.
Disebut sebagai "mobilisasi warga untuk kembali ke tatanan republik", demonstrasi antihuru-hara terjadi setelah rumah wali kota pinggiran kota Paris ditabrak mobil yang terbakar.
Nenek Nahel, Nadia, mengatakan kepada BFM TV bahwa perusuh menggunakan kematian cucunya sebagai dalih untuk memicu kekacauan.
“Saya memberitahu mereka untuk menghentikannya. Ibu-ibu yang naik bus, ibu-ibu yang berjalan di luar. Kita harus menenangkan sesuatu, kita tidak ingin mereka merusak sesuatu,” katanya.
"Nahel sudah mati, hanya itu yang ada."
(mas)
Lihat Juga :