Pangeran Saudi: Tak Ada Agen Asing dalam Pembunuhan Raja Faisal
Rabu, 29 April 2020 - 05:11 WIB
Pangeran Turki ingat bahwa ketika dia diangkat menjadi kepala Intelejen Umum Arab Saudi, sudah lazim untuk tidak mengumumkan nama direktur intelijen. “Tapi pengangkatan saya diumumkan dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh Royal Court, dan diumumkan kepada publik melalui media," ujarnya.
“Ketika saya mengambil alih kendali, saya melihat peraturan Intelijen Umum yang terdiri dari satu halaman. Setelah mendapatkan persetujuan dari para penguasa, saya bekerja keras untuk menerapkan Peraturan Intelijen yang komprehensif untuk memastikan kelancaran fungsi serta untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan," ujarnya.
Pangeran Turki menekankan bahwa Arab Saudi mengikuti hukum Syariah Islam, dan bahwa sistem intelijen dan yurisdiksinya tidak mengizinkan pembunuhan siapa pun di bagian dunia mana pun. Di sisi lain, perannya adalah untuk mengumpulkan informasi dan mencari sumber sebelum menyerahkannya kepada pejabat terkait.
Pangeran Turki mencatat bahwa Raja Faisal ingin membujuk anggota oposisi Saudi yang tinggal di luar kerajaan untuk kembali ke negara tersebut. "Kementerian Dalam Negeri, Intelejen Umum dan perwakilan Raja memainkan peran mereka dalam membuat upaya Raja Faisal berhasil dalam hal ini dengan mengembalikan sebagian dari mereka ke negara ini," ujarnya.
Pangeran Turki membantah tuduhan bahwa organisasi teroris al-Qaeda di Afghanistan adalah ciptaan badan-badan intelijen Arab Saudi dan Amerika Serikat. Dia menyatakan bahwa peran intelijen di Afghanistan adalah untuk mendukung upaya Mujahidin melawan invasi Soviet pada saat itu, serta untuk mencegah perluasan invasi tersebut ke Pakistan.
“Ketika saya mengambil alih kendali, saya melihat peraturan Intelijen Umum yang terdiri dari satu halaman. Setelah mendapatkan persetujuan dari para penguasa, saya bekerja keras untuk menerapkan Peraturan Intelijen yang komprehensif untuk memastikan kelancaran fungsi serta untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan," ujarnya.
Pangeran Turki menekankan bahwa Arab Saudi mengikuti hukum Syariah Islam, dan bahwa sistem intelijen dan yurisdiksinya tidak mengizinkan pembunuhan siapa pun di bagian dunia mana pun. Di sisi lain, perannya adalah untuk mengumpulkan informasi dan mencari sumber sebelum menyerahkannya kepada pejabat terkait.
Pangeran Turki mencatat bahwa Raja Faisal ingin membujuk anggota oposisi Saudi yang tinggal di luar kerajaan untuk kembali ke negara tersebut. "Kementerian Dalam Negeri, Intelejen Umum dan perwakilan Raja memainkan peran mereka dalam membuat upaya Raja Faisal berhasil dalam hal ini dengan mengembalikan sebagian dari mereka ke negara ini," ujarnya.
Pangeran Turki membantah tuduhan bahwa organisasi teroris al-Qaeda di Afghanistan adalah ciptaan badan-badan intelijen Arab Saudi dan Amerika Serikat. Dia menyatakan bahwa peran intelijen di Afghanistan adalah untuk mendukung upaya Mujahidin melawan invasi Soviet pada saat itu, serta untuk mencegah perluasan invasi tersebut ke Pakistan.
Lihat Juga :