Ferguson Terus Memanas, Polisi AS dan Demonstran Bentrok
Senin, 18 Agustus 2014 - 12:18 WIB
Ferguson Terus Memanas, Polisi AS dan Demonstran Bentrok
A
A
A
FERGUSON - Situasi di Ferguson, Missouri, Amerika Serikat (AS), terus memanas setelah demonstrasi mendukung pria kulit hitam yang ditembak mati oleh polisi AS terus bermunculan. Hari ini (18/8/2014), polisi dan demonstran kembali bentrok.
Polisi di negara bagian Missouri menembakkan tabung asap ke arah demonstran yang berjumlah 400-an orang. Para demonstran terus menuntut keadilan atas kematian, Michael Brwon, 18, pemuda kulit hitam yang ditembak mati polisi AS tanpa alasan yang jelas.
Polisi bahkan mengerahkan kendaraan lapis baja untuk mengatasi para demonstran. Kasus ini menjadi sorotan dunia, sebab AS yang selama ini mengklaim sebagai negara penegak HAM, namun dianaggap rasis dengan pembunuhan terhadap Brown.
Polisi menyebut para pendemo sebagai “agressor”, dengan menuduh para demonstran telah menyusup ke barisan aparat penegak hukum.
Michael Brown ditembak mati oleh polisi AS pada 9 Agustus 2014, ketika sedang menuju ke rumah neneknya. Penembakan itu janggal, sebab Brown tidak menggunakan senjata apa pun.
Namun, Otoritas Ferguson seperti dikutip Reuters, menyatakan Brown, ditembak setelah bertengkar dengan seorang polisi bernama Darren Wilson. Namun, saksi mata mengatakan remaja itu tidak melakukan kekerasan, dan dia hanya menjadi korban rasisme.
Jaksa Agung AS, Eric Holder, memerintahkan autopsi terhadap jenazah Brown.”Karena kasus ini luar biasa, da nada permintaan dari keluarga Brown yang mengkritik pemeriksaan terhadap pelaku sudah cacat,” bunyi pernyataan Departemen Kehakiman AS, mengutip pernyataan Holder.
Polisi di negara bagian Missouri menembakkan tabung asap ke arah demonstran yang berjumlah 400-an orang. Para demonstran terus menuntut keadilan atas kematian, Michael Brwon, 18, pemuda kulit hitam yang ditembak mati polisi AS tanpa alasan yang jelas.
Polisi bahkan mengerahkan kendaraan lapis baja untuk mengatasi para demonstran. Kasus ini menjadi sorotan dunia, sebab AS yang selama ini mengklaim sebagai negara penegak HAM, namun dianaggap rasis dengan pembunuhan terhadap Brown.
Polisi menyebut para pendemo sebagai “agressor”, dengan menuduh para demonstran telah menyusup ke barisan aparat penegak hukum.
Michael Brown ditembak mati oleh polisi AS pada 9 Agustus 2014, ketika sedang menuju ke rumah neneknya. Penembakan itu janggal, sebab Brown tidak menggunakan senjata apa pun.
Namun, Otoritas Ferguson seperti dikutip Reuters, menyatakan Brown, ditembak setelah bertengkar dengan seorang polisi bernama Darren Wilson. Namun, saksi mata mengatakan remaja itu tidak melakukan kekerasan, dan dia hanya menjadi korban rasisme.
Jaksa Agung AS, Eric Holder, memerintahkan autopsi terhadap jenazah Brown.”Karena kasus ini luar biasa, da nada permintaan dari keluarga Brown yang mengkritik pemeriksaan terhadap pelaku sudah cacat,” bunyi pernyataan Departemen Kehakiman AS, mengutip pernyataan Holder.
(mas)