Rusia Sebut Hegemoni AS di Dunia Tamat

Kamis, 03 Juli 2014 - 15:20 WIB
Rusia Sebut Hegemoni...
Rusia Sebut Hegemoni AS di Dunia Tamat
A A A
MOSKOW - Seorang pejabat tinggi Rusia menyambut baik runtuhnya hegemoni Amerika Serikat (AS) dan munculnya tatanan dunia baru usai Perang Dingin. Menurut pejabat itu, AS bukan lagi satu-satunya negara berpengaruh di dunia.

Komentar itu muncul dari Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia, Yevgeny Lukyanov. ”Hegemoni AS di panggung dunia telah berakhir,” kata Lukyanov, dalam sebuah wawancara dengan RIA Novosti, semalam (2/7/2014).

“Kita perlu duduk dan setuju (pada tatanan dunia baru pasca-Perang Dingin). Harus ada kongres global yang mencakup semua negara yang jadi pemain kunci,” ujarnya.

Lukyanov mendukung gagasan Presiden Rusia, Vladimir Putian, untuk memunculkan kembali Rusia sebagai negara pemain kunci di panggung dunia. Gagasan itu muncul, setelah bertahun-tahun Rusia terpuruk usai Uni Soviet runtuh.

Meskipun cita-citanya untuk membentuk sebuah tatanan dunia baru, Putin tidak pernah blak-blakan menyerukan para pemimpin negara-negara Barat untuk merevisi sistem atau atauran internasional.

Aksi menganeksasi Crimea dari Ukraina, telah menjadi salah satu bukti Rusia ingin menjadi negara berpengaruh di dunia. Rusia juga menjadi negara yang paling diperhitungkan oleh AS dan negara-negara Barat dalam krisis Ukraina yang tak kunjung mereda.

Lukyanov mengaku, negaranya iri dengan dominasi AS dan negara-negara Barat di panggung internasional. Namun, hal itu terobati setelah Putin dengan tegas menagatakan hubungan luar negeri Rusia harus dibangun atas dasar keseteraan dan saling menghormati.

”Jelas bahwa kita tidak suka dominasi di beberapa negara, kita iri,” kata Lukyanov. ”Tapi kita tidak menuntut perhatian. Kami bersikeras pada kebutuhan untuk mematuhi hukum internasional, hak negara berdaulat dan non-interference dalam urusan internal mereka.” Lanjut Lukyanov.

Kremlin menginginkan untuk membentuk tatanan internasional multipolar, di mana pandangan dari Moskow, Brasilia, New Delhi, Beijing dan Pretoria akan memikul tanggung jawab yang setara.

”Rusia telah melewati banyak perang, dan saat ini berkelahi salah satunya dengan AS atas krisis Ukraina," kata Sergei Markov, analis politik dan wakil rektor Russian University of Economics di Moskow. ”Negara ini menderita akibat Perang Dunia II dan Perang Dingin. Sekarang Rusia hanya ingin bersantai, untuk tumbuh. Tidak perlu terjebak dalam konflik yang tak rampung dengan Barat.”
(mas)
Berita Terkait
Situasi Energi Ukraina...
Situasi Energi Ukraina Memburuk, Gelap Gulita Dilanda Krisis Listrik
Efek Ekonomi Krisis...
Efek Ekonomi Krisis Rusia Vs Ukraina
Kalah dari Ukraina,...
Kalah dari Ukraina, Spanyol Krisis Penyerang
Waspadai Pelemahan Ekspor...
Waspadai Pelemahan Ekspor Lanjutan
Krisis Energi di Eropa...
Krisis Energi di Eropa Akibat Buah Simalakama
Krisis Ukraina: Biden...
Krisis Ukraina: Biden Tolak Garis Merah Rusia
Berita Terkini
Delegasi Hamas ke Mesir...
Delegasi Hamas ke Mesir untuk Pembicaraan Fase Selanjutnya Gencatan Senjata Gaza
18 menit yang lalu
Israel Perluas Zona...
Israel Perluas Zona Kuning, Paksa Ribuan Warga Gaza Mengungsi Lagi
36 menit yang lalu
Penerbangan Netanyahu...
Penerbangan Netanyahu ke AS Melintasi Wilayah Udara Negara-negara Anggota ICC
1 jam yang lalu
Trump Cueki Netanyahu,...
Trump Cueki Netanyahu, Tetap Akan Jual Jet Tempur Siluman F-35 AS ke Turki
3 jam yang lalu
4 Alasan Jepang Kini...
4 Alasan Jepang Kini Jadi Aliansi Terpenting AS di Asia, Garda Terdepan Melawan Rusia dan China
4 jam yang lalu
Rusia Diduga Bantu Iran...
Rusia Diduga Bantu Iran Gempur Pangkalan AS, Trump Akan Tanya Langsung Putin
4 jam yang lalu
Infografis
Timnas Indonesia vs...
Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026, Target Garuda Start Sempurna
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved