Irak kian Kritis, AS dan Iran Berseteru
Senin, 23 Juni 2014 - 15:54 WIB
Irak kian Kritis, AS dan Iran Berseteru
A
A
A
KAIRO - Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) yang dibantu rekan militan mereka dari Suriah, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), dikabarkan semakin memperkuat posisi mereka di Irak. Dua kelompok militan itu berhasil merebut beberapa kota di negara kaya minyak tersebut.
Melansir CNN, Senin (23/6/2014), kondisi kian genting dengan adanya laporan yang menyebut pasukan Irak menarik diri dari setidaknya tiga kota di provinsi Anbar, provinsi terbesar di Irak yang setengah wilayahnya dikuasai oleh militan.
Penarikan mundur pasukan pemerintah ini memunculkan pertanyaan, apakah pemerintah Irak yang dipimpin oleh Perdana Menteri Nuri al-Maliki sudah menyerah untuk mempertahankan provinsi tersebut?
Di saat kondisi Irak semakin kritis, Amerika Serikat dan Iran, dua negara yang semula dikabarkan telah memperbaiki hubungan demi membantu menyelesaikan krisis Irak, justru dilaporkan kembali berseteru.
Semua diawali ketika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengecam tindakan yang dilakukan oleh AS di Irak. Menurut Khameneni, Irak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan tidak perlu bantuan dari AS.
Namun, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry akhir pekan lalu kembali menegaskan tujuan mereka untuk terus membantu Irak guna menyelesaikan krisis di negara mereka. ”Ini semua tentang ISIS/ISIL yang mendesain keadaan di Irak, dan kami siap membantu mereka untuk memperbaikinya,” ungkap Kerry.
Sementara itu, Khamenei dalam pernyataan pada akhir pekan lalu juga mengatakan, bahwa tujuan utama AS dalam membantu Irak adalah hanya untuk memastikan bawah mereka (AS) tidak kehilangan kendali atas Irak.
Melansir CNN, Senin (23/6/2014), kondisi kian genting dengan adanya laporan yang menyebut pasukan Irak menarik diri dari setidaknya tiga kota di provinsi Anbar, provinsi terbesar di Irak yang setengah wilayahnya dikuasai oleh militan.
Penarikan mundur pasukan pemerintah ini memunculkan pertanyaan, apakah pemerintah Irak yang dipimpin oleh Perdana Menteri Nuri al-Maliki sudah menyerah untuk mempertahankan provinsi tersebut?
Di saat kondisi Irak semakin kritis, Amerika Serikat dan Iran, dua negara yang semula dikabarkan telah memperbaiki hubungan demi membantu menyelesaikan krisis Irak, justru dilaporkan kembali berseteru.
Semua diawali ketika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengecam tindakan yang dilakukan oleh AS di Irak. Menurut Khameneni, Irak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan tidak perlu bantuan dari AS.
Namun, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry akhir pekan lalu kembali menegaskan tujuan mereka untuk terus membantu Irak guna menyelesaikan krisis di negara mereka. ”Ini semua tentang ISIS/ISIL yang mendesain keadaan di Irak, dan kami siap membantu mereka untuk memperbaikinya,” ungkap Kerry.
Sementara itu, Khamenei dalam pernyataan pada akhir pekan lalu juga mengatakan, bahwa tujuan utama AS dalam membantu Irak adalah hanya untuk memastikan bawah mereka (AS) tidak kehilangan kendali atas Irak.
(esn)