Dicela Barat karena Kudeta, Militer Thailand Dekati China
Rabu, 11 Juni 2014 - 13:50 WIB
Dicela Barat karena Kudeta, Militer Thailand Dekati China
A
A
A
BANGKOK - Militer Thailand yang saat ini memegang kekuasaan setelah melakukan kudeta, berupaya mendekatkan diri ke China setelah dicela negara-negara Barat. Delegasi militer Thailand pada Rabu (11/6/2014) melakukan lawatan ke China.
Jenderal Surasak Kanjanarat, Wakil Menteri Tetap untuk Pertahanan Thiland mengatakan, pertemuan dengan para pejabat China untuk memetakan rencana masa depan hubungan militer Thailand dengan China.
Thailand semula merupakan sekutu Amerika Serikat. Namun, sejak militer Thailand pimpinan Jenderal Prayuth Chan-ocha melakukan kudeta, Amerika Serikat mengkritik keras dengan membekukan bantuan. Sebaliknya, junta militer Thailand mengklaim didukung China.
”Pertemuan ini akan membicarakan hubungan dan rencana aksi masa depan, serta bertukar pandangan mengenai keamanan regional,” Surasak kepada wartawan, seperti dikutip Reuters.
”Kami akan membahas, di mana di daerah kita bisa meningkatkan pelatihan militer. Kami tidak akan berbicara tentang situasi di Thailand, karena tidak relevan.” Surasak dijadwalkan bertemu dengan Wakil Kepala Staf Militer China, Letnan Jenderal Wang Guanzhong.
Kudeta militer di Thailand juga ditentang warga di sana. Usai kudeta, militer Thailand masih memberlakukan status darurat militer. Selama berstatus darurat militer, jam malam diberlakukan dan demonstran dilarang berkumpul lebih dari lima orang. Media-media juga disensor ketat, termasuk media sosial.
Jenderal Surasak Kanjanarat, Wakil Menteri Tetap untuk Pertahanan Thiland mengatakan, pertemuan dengan para pejabat China untuk memetakan rencana masa depan hubungan militer Thailand dengan China.
Thailand semula merupakan sekutu Amerika Serikat. Namun, sejak militer Thailand pimpinan Jenderal Prayuth Chan-ocha melakukan kudeta, Amerika Serikat mengkritik keras dengan membekukan bantuan. Sebaliknya, junta militer Thailand mengklaim didukung China.
”Pertemuan ini akan membicarakan hubungan dan rencana aksi masa depan, serta bertukar pandangan mengenai keamanan regional,” Surasak kepada wartawan, seperti dikutip Reuters.
”Kami akan membahas, di mana di daerah kita bisa meningkatkan pelatihan militer. Kami tidak akan berbicara tentang situasi di Thailand, karena tidak relevan.” Surasak dijadwalkan bertemu dengan Wakil Kepala Staf Militer China, Letnan Jenderal Wang Guanzhong.
Kudeta militer di Thailand juga ditentang warga di sana. Usai kudeta, militer Thailand masih memberlakukan status darurat militer. Selama berstatus darurat militer, jam malam diberlakukan dan demonstran dilarang berkumpul lebih dari lima orang. Media-media juga disensor ketat, termasuk media sosial.
(mas)