Hadapi Rusia, NATO Inginkan Misi Panjang di Eropa Timur
Selasa, 03 Juni 2014 - 08:24 WIB
Hadapi Rusia, NATO Inginkan Misi Panjang di Eropa Timur
A
A
A
BRUSSELS - Para menteri pertahanan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mempertimbangkan langkah untuk memperpanjang misi NATO di Eropa Timur. Langkah itu dilakukan untuk menghadapi Rusia yang dianggap memainkan taktik dalam krisis Ukraina.
Sejak krisis baru Ukraina pecah di wilayah timur tiga bulan terakhir ini, NATO telah mengerahkan berbagai pesawat jet tempur dan kapal perang untuk bermanuver di Eropa Timur. Manuver militer NATO itu untuk meyakinkan anggota-anggota NATO di Eropa Timur yang cemas dengan sepak terjang Rusia, sejak Crimea dicaplok dari Ukraina.
Rencana untuk memperpanjang misi milter di Eropa Timur itu akan dibahas dalam pertemuan 28 negara NATO di Brussels pada Selasa (3/6/2014). Menurut NATO, Rusia memainkan taktik “setengah-setengah” di Ukraina timur. Maksudnya, setengah mendukung separatism, dan setengah mendukung perundingan damai.
“Hal ini jelas. Untuk aliansi (NATO) bahwa ini adalah tantangan yang paling berat untuk stabilitas di Eropa sejak akhir Perang Dingin,” kata Duta Besar AS untuk NATO, Douglas Lute, kepada wartawan kemarin, yang dilansir Reuters, Selasa (3/6/2014).
Salah satu negara di Eropa Timur yang cemas dengan sepak terjang Rusia, yakni Polandia bahkan mendesak agar militer NATO ditempatkan permanen. Alasannya, Polandia menduga Rusia akan melanggar perjanjian antara NATO dan Rusia yang dibuat tahun 1997.
Komandan militer NATO, Jenderal Philip Breedlove, sebelumnya juga menyatakan, bahwa NATO harus mempertimbangkan untuk menempatkan pasukan tempurnya di Eropa Timur secara permanen. Namun, usulan itu belum diputuskan.
Sejak krisis baru Ukraina pecah di wilayah timur tiga bulan terakhir ini, NATO telah mengerahkan berbagai pesawat jet tempur dan kapal perang untuk bermanuver di Eropa Timur. Manuver militer NATO itu untuk meyakinkan anggota-anggota NATO di Eropa Timur yang cemas dengan sepak terjang Rusia, sejak Crimea dicaplok dari Ukraina.
Rencana untuk memperpanjang misi milter di Eropa Timur itu akan dibahas dalam pertemuan 28 negara NATO di Brussels pada Selasa (3/6/2014). Menurut NATO, Rusia memainkan taktik “setengah-setengah” di Ukraina timur. Maksudnya, setengah mendukung separatism, dan setengah mendukung perundingan damai.
“Hal ini jelas. Untuk aliansi (NATO) bahwa ini adalah tantangan yang paling berat untuk stabilitas di Eropa sejak akhir Perang Dingin,” kata Duta Besar AS untuk NATO, Douglas Lute, kepada wartawan kemarin, yang dilansir Reuters, Selasa (3/6/2014).
Salah satu negara di Eropa Timur yang cemas dengan sepak terjang Rusia, yakni Polandia bahkan mendesak agar militer NATO ditempatkan permanen. Alasannya, Polandia menduga Rusia akan melanggar perjanjian antara NATO dan Rusia yang dibuat tahun 1997.
Komandan militer NATO, Jenderal Philip Breedlove, sebelumnya juga menyatakan, bahwa NATO harus mempertimbangkan untuk menempatkan pasukan tempurnya di Eropa Timur secara permanen. Namun, usulan itu belum diputuskan.
(mas)