AS & para musuh Assad takut jika Suriah gelar pemilu
Jum'at, 04 April 2014 - 17:27 WIB
AS & para musuh Assad takut jika Suriah gelar pemilu
A
A
A
Sindonews.com – Amerika Serikat dan negara-negara Arab pro-oposisi yang memusuhi Presiden Bashar al-Assad atau kelompok “Friends of Suriah” takut jika Suriah menggelar pemilu. Alasannya, pemilu yang digelar di tengah-tengah perang saudara hanya akan membunuh pembicaraan damai.
Mereka menyebut pemilu yang akan digelar di saat Presiden Suriah, Bashar al-Assad, masih berkuasa sama halnya dengan parodi demokrasi. ”Pemilu yang diselenggarakan oleh rezim Assad akan menjadi parodi demokrasi, dan akan memperdalam perpecahan di Suriah,” bunyi pernyataan “Friends of Suriah” yang terdiri dari Amerika Serikat, Perancis, Arab Saudi dan Turki.
Kelompok itu tetap menghendaki pemerintahan transisi dan menuntut pelengseran Assad. Cara itu, dianggap sebagai solusi untuk mengakhiri proses perundingan damai di Jenewa yang didukung PBB.
Sementara itu, menjelang pemilu di Suriah, parlemen Suriah menetapkan aturan residensi untuk calon presiden pada bulan Maret lalu. Hal itu, sebagai langkah yang akan menghalangi para musuh Assad yang tinggal di pengasingan untuk bisa berkuasa di Suriah.
”Tindakan terbaru oleh rezim Assad untuk membuka jalan bagi pemilihan presiden dalam beberapa bulan mendatang, termasuk pengundangan undang-undang pemilu yang baru, tidak memiliki kredibilitas,” kecam kelompok itu, seperti dikutip Reuters, Jumat (4/4/2014).
“Maksud Bashar al - Assad pemilu ini untuk mempertahankan kediktatorannya,” lanjut kelompok tersebut. ”Proses pemilu yang dipimpin oleh Assad, yang oleh PBB dianggap telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, akan mengolok-olok kehidupan orang yang tidak bersalah, yang hilang dalam konflik.”
Sudah tiga tahun, perang sipil di Suriah pecah. Lebih dari 150.000 orang tewas, di mana sepertiga dari mereka adalahh warga sipil. Selain itu jutaan orang memilih melarikan diri dari negaranya karena ketakutan terhadap situasi perang yang berkecamuk.
Mereka menyebut pemilu yang akan digelar di saat Presiden Suriah, Bashar al-Assad, masih berkuasa sama halnya dengan parodi demokrasi. ”Pemilu yang diselenggarakan oleh rezim Assad akan menjadi parodi demokrasi, dan akan memperdalam perpecahan di Suriah,” bunyi pernyataan “Friends of Suriah” yang terdiri dari Amerika Serikat, Perancis, Arab Saudi dan Turki.
Kelompok itu tetap menghendaki pemerintahan transisi dan menuntut pelengseran Assad. Cara itu, dianggap sebagai solusi untuk mengakhiri proses perundingan damai di Jenewa yang didukung PBB.
Sementara itu, menjelang pemilu di Suriah, parlemen Suriah menetapkan aturan residensi untuk calon presiden pada bulan Maret lalu. Hal itu, sebagai langkah yang akan menghalangi para musuh Assad yang tinggal di pengasingan untuk bisa berkuasa di Suriah.
”Tindakan terbaru oleh rezim Assad untuk membuka jalan bagi pemilihan presiden dalam beberapa bulan mendatang, termasuk pengundangan undang-undang pemilu yang baru, tidak memiliki kredibilitas,” kecam kelompok itu, seperti dikutip Reuters, Jumat (4/4/2014).
“Maksud Bashar al - Assad pemilu ini untuk mempertahankan kediktatorannya,” lanjut kelompok tersebut. ”Proses pemilu yang dipimpin oleh Assad, yang oleh PBB dianggap telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan, akan mengolok-olok kehidupan orang yang tidak bersalah, yang hilang dalam konflik.”
Sudah tiga tahun, perang sipil di Suriah pecah. Lebih dari 150.000 orang tewas, di mana sepertiga dari mereka adalahh warga sipil. Selain itu jutaan orang memilih melarikan diri dari negaranya karena ketakutan terhadap situasi perang yang berkecamuk.
(mas)