MH370 jatuh di Samudera Hindia karena bahan bakar habis?
Sabtu, 15 Maret 2014 - 09:52 WIB
MH370 jatuh di Samudera Hindia karena bahan bakar habis?
A
A
A
Sindonews.com - Para penelitiAmerika Serikat yang ikut menyelidiki hilangnya pesawat Malaysia Airlines (MAS) MH370 menduga pesawat itu jatuh di Samudera Hindia, karena kehabisan bahan bakar. Menurut peneliti AS tersebut, kecil kemungkinan pesawat terbang menuju India.
Peneliti yang menolak diidentifikasi, dengan alasan investigasi masih berlangsung itu semakin meyakini, pesawat MH370 sengaja dialihkan dari jalur yang dijadwalkan. Yakni dari Kuala Lumpur ke Beijing.
Dua sumber peneliti AS mengatakan, data radar militer Malaysia, menunjukkan pesawat terakhir terlihat oleh radar pada tanggal 8 Maret 2014 di sebelah barat laut Malaysia. ”Sinyal elektronik yang diyakini telah ditransmisikan selama beberapa jam setelah pesawat terbang keluar dari jangkauan radar,” tulis Reuters, Sabtu (15/3/2014) mengutip sumber peneliti AS tersebut.
Dugaan pesawat jatuh di Samudera Hindia, juga sempat disampaikan juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, yang ikut mengutip para peneliti AS. Dari analisa itu, AS menginstruksikan kapal penghancur rudal USS Kidd ikut mencari pesawat ke Samudera Hindia.
Namun, seorang analis penerbangan meragukan prediksi para peneliti AS itu. Alasannya, mustahil jika pesawat itu terbang di langit kawasan Asia Tenggara yang terkenal sibuk tanpa terdeteksi.
”Untuk pesawat yang benar-benar menghilang pada tingkat teknologi terkini, di langit yang sangat sibuk di Asia Tenggara adalah benar-benar aneh,” ucap Neil Hansford, Ketua Konsultan Maskapai Penerbangan Australia Strategic Aviation Solutions.
”Tapi, (sebaliknya), Anda harus bertanya-tanya, mengapa USS Kidd (kapal perang AS) mengepul ke Laut Andaman pada level 33 knot, jika memang pesawat diduga ada Laut Cina Selatan atau Teluk Thailand,” katanya menaruh kecurigaan pada Gedung Putih.
Peneliti yang menolak diidentifikasi, dengan alasan investigasi masih berlangsung itu semakin meyakini, pesawat MH370 sengaja dialihkan dari jalur yang dijadwalkan. Yakni dari Kuala Lumpur ke Beijing.
Dua sumber peneliti AS mengatakan, data radar militer Malaysia, menunjukkan pesawat terakhir terlihat oleh radar pada tanggal 8 Maret 2014 di sebelah barat laut Malaysia. ”Sinyal elektronik yang diyakini telah ditransmisikan selama beberapa jam setelah pesawat terbang keluar dari jangkauan radar,” tulis Reuters, Sabtu (15/3/2014) mengutip sumber peneliti AS tersebut.
Dugaan pesawat jatuh di Samudera Hindia, juga sempat disampaikan juru bicara Gedung Putih, Jay Carney, yang ikut mengutip para peneliti AS. Dari analisa itu, AS menginstruksikan kapal penghancur rudal USS Kidd ikut mencari pesawat ke Samudera Hindia.
Namun, seorang analis penerbangan meragukan prediksi para peneliti AS itu. Alasannya, mustahil jika pesawat itu terbang di langit kawasan Asia Tenggara yang terkenal sibuk tanpa terdeteksi.
”Untuk pesawat yang benar-benar menghilang pada tingkat teknologi terkini, di langit yang sangat sibuk di Asia Tenggara adalah benar-benar aneh,” ucap Neil Hansford, Ketua Konsultan Maskapai Penerbangan Australia Strategic Aviation Solutions.
”Tapi, (sebaliknya), Anda harus bertanya-tanya, mengapa USS Kidd (kapal perang AS) mengepul ke Laut Andaman pada level 33 knot, jika memang pesawat diduga ada Laut Cina Selatan atau Teluk Thailand,” katanya menaruh kecurigaan pada Gedung Putih.
(mas)