Rusia: Ukraina yang membelah negaranya jadi dua!
Jum'at, 14 Maret 2014 - 14:49 WIB
Rusia: Ukraina yang membelah negaranya jadi dua!
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Rusia tidak ingin disalahkan, setelah rakyat Crimea—wilayah semi-otonom Ukraina—melakukan referendum untuk bergabung ke Rusia. Moskow menyebut, penyebab Ukraina yang diambang pecah menjadi dua bagian itu, karena ulah pemerintah baru Ukraina sendiri.
Demikian disampaikan Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin. Menurutnya, pemerintah baru Ukraina saat ini adalah ilegal. Karena dibentuk melalui kudeta terhadap pemerintah yang sah, yakni pemerintah pimpinan Presiden Viktor Yanukovych. Sedangkan Yanukovych sendiri masih mengklaim sebagai pemimpin Ukraina yang sah.
”Kiev sendiri yang membagi negaranya menjadi dua bagian,” kata Churkin, dalam forum Dewan Keamanan PBB, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (14/3/2014). Kiev, mengacu kepada pusat pemerintah Ukraina, yakni ibukota Ukraina.
Rusia sendiri bersumpah untuk memveto resolusi PBB yang disuarakan Amerika Serikat (AS). Isi resolusi itu adalah, desakan dari AS agar negara-negara anggota PBB tidak mengakui referendum rakyat Crimea yang ingin bergabung dengan Rusia.
Sementara itu, militer Rusia kembali bermanuver di dekat perbatasannya Ukraina. Presiden Vladimir Putin mengatakan dunia seharusnya tidak menyalahkan Rusia, atas apa yang terjadi di Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa ribuan tentara Rusia di wilayah Rostov, Belgorod, Kursk dan Tambov yang berbatasan Ukraina terlibat dalam latihan perang. Manuver militer itu akan berlanjut sampai akhir bulan.
Demikian disampaikan Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin. Menurutnya, pemerintah baru Ukraina saat ini adalah ilegal. Karena dibentuk melalui kudeta terhadap pemerintah yang sah, yakni pemerintah pimpinan Presiden Viktor Yanukovych. Sedangkan Yanukovych sendiri masih mengklaim sebagai pemimpin Ukraina yang sah.
”Kiev sendiri yang membagi negaranya menjadi dua bagian,” kata Churkin, dalam forum Dewan Keamanan PBB, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (14/3/2014). Kiev, mengacu kepada pusat pemerintah Ukraina, yakni ibukota Ukraina.
Rusia sendiri bersumpah untuk memveto resolusi PBB yang disuarakan Amerika Serikat (AS). Isi resolusi itu adalah, desakan dari AS agar negara-negara anggota PBB tidak mengakui referendum rakyat Crimea yang ingin bergabung dengan Rusia.
Sementara itu, militer Rusia kembali bermanuver di dekat perbatasannya Ukraina. Presiden Vladimir Putin mengatakan dunia seharusnya tidak menyalahkan Rusia, atas apa yang terjadi di Ukraina.
Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa ribuan tentara Rusia di wilayah Rostov, Belgorod, Kursk dan Tambov yang berbatasan Ukraina terlibat dalam latihan perang. Manuver militer itu akan berlanjut sampai akhir bulan.
(mas)