Giliran NATO tangguhkan kerjasama militer dengan Rusia
Kamis, 06 Maret 2014 - 14:12 WIB
Giliran NATO tangguhkan kerjasama militer dengan Rusia
A
A
A
Sindonews.com – Setelah Amerika Serikat (AS) menghentikan kerjasama militer dengan Rusia, kini giliran NATO menangguhkan kerjasama militer dengan Rusia. Langkah NATO itu sebagai respon atas intervensi militer Moskow di Ukraina.
Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, mengatakan, bahwa penangguhan kerjasama militer dengan Rusia itu mencakup kerjasama untuk penghancuran senjata kimia Suriah.
”Ini implikasi serius bagi keamanan dan stabilitas di kawasan itu, bahwa Rusia terus melanggar kedaulatan Ukraina dan integritas teritorial,” kata Rasmussen. ”Tindakan Rusia memiliki konsekuensi,” katanya lagi.
Di Paris, kemarin, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry , dan beberapa menteri luar negeri bertemu Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, untuk mencoba meredakan ketegangan di timur Ukraina. Kerry mengatakan, bahwa ia akan bertemu dengan Lavrov di Roma pada hari ini (6/3/2014) untuk melanjutkan diskusi perihak ketegangan di wilayah Crimea, sebuah wilayah semi otonom Ukraina.
”Kita tidak bisa, dan tidak akan membiarkan integritas dan kedaulatan negara Ukraina dilanggar,” kata Kerry. Lavrov sendiri membantah bahwa, tentara yang dikerahkan di Crimea merupakan tentara Rusia.
Sementara itu, di Washington DC, Menteri Pertahanan AS , Chuck Hagel, mengatakan kepada senator, bahwa ia sedang mempersiapkan untuk meningkatkan kerjasama militer dengan Polandia dan negara-negara Baltik.
Taujuannya,guna menunjukkan dukungan AS kepada sekutu-sekutunya setelah intervensi Rusia di Ukraina. “Departemen Pertahanan AS sedang mengejar langkah-langkah untuk mendukung sekutu-sekutu kami,” katanya, seperti dikutip Al Jazeera.
Sekretaris Jenderal NATO, Anders Fogh Rasmussen, mengatakan, bahwa penangguhan kerjasama militer dengan Rusia itu mencakup kerjasama untuk penghancuran senjata kimia Suriah.
”Ini implikasi serius bagi keamanan dan stabilitas di kawasan itu, bahwa Rusia terus melanggar kedaulatan Ukraina dan integritas teritorial,” kata Rasmussen. ”Tindakan Rusia memiliki konsekuensi,” katanya lagi.
Di Paris, kemarin, Menteri Luar Negeri AS, John Kerry , dan beberapa menteri luar negeri bertemu Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, untuk mencoba meredakan ketegangan di timur Ukraina. Kerry mengatakan, bahwa ia akan bertemu dengan Lavrov di Roma pada hari ini (6/3/2014) untuk melanjutkan diskusi perihak ketegangan di wilayah Crimea, sebuah wilayah semi otonom Ukraina.
”Kita tidak bisa, dan tidak akan membiarkan integritas dan kedaulatan negara Ukraina dilanggar,” kata Kerry. Lavrov sendiri membantah bahwa, tentara yang dikerahkan di Crimea merupakan tentara Rusia.
Sementara itu, di Washington DC, Menteri Pertahanan AS , Chuck Hagel, mengatakan kepada senator, bahwa ia sedang mempersiapkan untuk meningkatkan kerjasama militer dengan Polandia dan negara-negara Baltik.
Taujuannya,guna menunjukkan dukungan AS kepada sekutu-sekutunya setelah intervensi Rusia di Ukraina. “Departemen Pertahanan AS sedang mengejar langkah-langkah untuk mendukung sekutu-sekutu kami,” katanya, seperti dikutip Al Jazeera.
(mas)