Tuduh Putin tukang bohong, AS & Rusia terus bersitegang
Kamis, 06 Maret 2014 - 09:25 WIB
Tuduh Putin tukang bohong, AS & Rusia terus bersitegang
A
A
A
Sindonews.com – Ketegangan antara Pemerintah Amerika Serikat (AS) dan Rusia prihal krisis Ukraina berlanjut. AS tidak terima dengan alasan pengerahan pasukan Rusia di Ukraina, dan menuduh Rusia mengarang cerita tentang Ukraina.
Departemen Luar Negeri AS, menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin berbohong tentang peristiwa yang terjadi Ukraina. Mereka mengatakan ada 10 kebohongan atau karangan cerita Putin.
”Rusia berputar pada narasi palsu untuk membenarkan tindakan ilegal di Ukraina,” bunyi pernyataan Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip Reuters, Kamis (6/3/2014).
”Dunia belum melihat sesuatu yang mengejutkan seperti fiksi yang ditulis Dostoyevsky, tentang rumus ‘dua ditambah dua sama dengan lima’, bukan tanpa atraksi,” lanjut pernyataan itu.
Departemen itu, melansir beberapa dari 10 poin karangan Putin tentang krisis yang terjadi di Ukraina.“Putin mengatakan; pasukan Rusia di Crimea hanya bertindak untukmelindungi aset militer Rusia,” imbuh pernyataan itu. ”Faktanya, bukti kuat menunjukkan bahwa anggota jasa keamanan Rusia berada di jantung pasukan anti-Ukraina yang sangat terorganisir di Crimea.”
AS juga mengungkap klaim Putin, bahwa pasukan bersenjata tanpa lencana yang diklaim bukan pasukan Rusia.”Unit-unit pasukan ini memakai seragam tanpa lencana, mereka mengemudikan kendaraan dengan pelat militer Rusia, dan ketika ditanya media internasional dan militer Rusia, mereka mengaku sebagai pasukan keamanan Rusia,” imbuh pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Sebelumnya Putin mengklaim, pasukan bersenjata yang siaga di Crimea, bukanlah pasukan Rusia. Namun, pasukan Crimea yang dilatih militan Ukraina, yang terlibat dalam kudeta Presiden Viktor Yanukovych.
Secara lengkap, data-data yang disebut sebagai karangan Putin, dilansir di situs Departemen Luar Negeri AS, www.state.gov.
Ketegangan dua negara adidaya dunia itu semakin menjadi-jadi, setelah penasihat keamanan nasional Presiden AS Barack Obama, Susan Rice, menuliskan tweet provokatif melaluin akun Twitter-nya. ”Cukup sudah dengan spin Rusia. Fokus penting kita pada fakta-fakta,” tulis Susan, mengacu pada dokumen Departemen Luar Negeri AS itu.
Departemen Luar Negeri AS, menyebut Presiden Rusia, Vladimir Putin berbohong tentang peristiwa yang terjadi Ukraina. Mereka mengatakan ada 10 kebohongan atau karangan cerita Putin.
”Rusia berputar pada narasi palsu untuk membenarkan tindakan ilegal di Ukraina,” bunyi pernyataan Departemen Luar Negeri AS, seperti dikutip Reuters, Kamis (6/3/2014).
”Dunia belum melihat sesuatu yang mengejutkan seperti fiksi yang ditulis Dostoyevsky, tentang rumus ‘dua ditambah dua sama dengan lima’, bukan tanpa atraksi,” lanjut pernyataan itu.
Departemen itu, melansir beberapa dari 10 poin karangan Putin tentang krisis yang terjadi di Ukraina.“Putin mengatakan; pasukan Rusia di Crimea hanya bertindak untukmelindungi aset militer Rusia,” imbuh pernyataan itu. ”Faktanya, bukti kuat menunjukkan bahwa anggota jasa keamanan Rusia berada di jantung pasukan anti-Ukraina yang sangat terorganisir di Crimea.”
AS juga mengungkap klaim Putin, bahwa pasukan bersenjata tanpa lencana yang diklaim bukan pasukan Rusia.”Unit-unit pasukan ini memakai seragam tanpa lencana, mereka mengemudikan kendaraan dengan pelat militer Rusia, dan ketika ditanya media internasional dan militer Rusia, mereka mengaku sebagai pasukan keamanan Rusia,” imbuh pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Sebelumnya Putin mengklaim, pasukan bersenjata yang siaga di Crimea, bukanlah pasukan Rusia. Namun, pasukan Crimea yang dilatih militan Ukraina, yang terlibat dalam kudeta Presiden Viktor Yanukovych.
Secara lengkap, data-data yang disebut sebagai karangan Putin, dilansir di situs Departemen Luar Negeri AS, www.state.gov.
Ketegangan dua negara adidaya dunia itu semakin menjadi-jadi, setelah penasihat keamanan nasional Presiden AS Barack Obama, Susan Rice, menuliskan tweet provokatif melaluin akun Twitter-nya. ”Cukup sudah dengan spin Rusia. Fokus penting kita pada fakta-fakta,” tulis Susan, mengacu pada dokumen Departemen Luar Negeri AS itu.
(mas)