Alasan gadis-gadis Somalia disunat
Senin, 03 Maret 2014 - 18:26 WIB
Alasan gadis-gadis Somalia disunat
A
A
A
Sindonews.com – Organisasi PBB yang menangani hak-hak anak dan pemuda, UNICEF, mengungkap alasan klasik tentang praktik sunat terhadap gadis-gadis di Somalia. Salah satu alasan klasik yang masih dipercaya para gadis di negara itu, adalah, jika alat kelamin tidak disunat, mereka tidak bisa menikah.
”Ini tradisi kami dan jika perempuan tidak mengalami sunat, dia tidak akan diterima untuk menikah,” kata Asma Ibrahim Jabril, 17, salah satu gadis di Somalia.
Namun, seiring dengan gencarnya kampanye penyadaran dari UNICEF, gadis-gadis di Somalia kini mulai sadar dan melawan tradisi kuno tersebut. Mereka mulai aktif terlibat diskusi perihal bahaya dan tidaknya praktik sunat terhadap gadis.
Praktik sunat terhadap gadis di Somalia, menurut UNICEF, sudah menjadi tradisi sejak ribuan tahun. Parahnya, tradisi itu kemudian menjadi semacam “pencucian otak” terhadap anak-anak perempuan di negara tersebut.
”Saya ingin itu (praktik sunat gadis) diberantas. Itu tradisi lama,” ujar Ikram Ismail, 18, di hadapan teman-teman diskusinya, seperti dilansir Mail Online, Senin (3/3/2014). ”Ketika ibu saya masih muda, tidak ada yang bisa berbicara tentang hal itu secara terbuka, tetapi sekarang orang memahami bahwa hal itu menyebabkan banyak kerugian. Jadi, itu sebabnya kita berbicara tentang hal ini.”
Menurutnya, dalam pemahaman lama, para orangtua di negaranya memberitahukan, bahwa, jika gadis tidak disunat, maka dianggap najis.
Kinya Koronya, petugas perlindungan anak untuk UNICEF, mengatakan, dia dibesarkan di sebuah komunitas di Kenya, di mana gadis-gadis muda juga mengalami praktik sunat. Namun, ayahnya tidak membiarkan prosedur itu terhadap dirinya.
”Ini tradisi kami dan jika perempuan tidak mengalami sunat, dia tidak akan diterima untuk menikah,” kata Asma Ibrahim Jabril, 17, salah satu gadis di Somalia.
Namun, seiring dengan gencarnya kampanye penyadaran dari UNICEF, gadis-gadis di Somalia kini mulai sadar dan melawan tradisi kuno tersebut. Mereka mulai aktif terlibat diskusi perihal bahaya dan tidaknya praktik sunat terhadap gadis.
Praktik sunat terhadap gadis di Somalia, menurut UNICEF, sudah menjadi tradisi sejak ribuan tahun. Parahnya, tradisi itu kemudian menjadi semacam “pencucian otak” terhadap anak-anak perempuan di negara tersebut.
”Saya ingin itu (praktik sunat gadis) diberantas. Itu tradisi lama,” ujar Ikram Ismail, 18, di hadapan teman-teman diskusinya, seperti dilansir Mail Online, Senin (3/3/2014). ”Ketika ibu saya masih muda, tidak ada yang bisa berbicara tentang hal itu secara terbuka, tetapi sekarang orang memahami bahwa hal itu menyebabkan banyak kerugian. Jadi, itu sebabnya kita berbicara tentang hal ini.”
Menurutnya, dalam pemahaman lama, para orangtua di negaranya memberitahukan, bahwa, jika gadis tidak disunat, maka dianggap najis.
Kinya Koronya, petugas perlindungan anak untuk UNICEF, mengatakan, dia dibesarkan di sebuah komunitas di Kenya, di mana gadis-gadis muda juga mengalami praktik sunat. Namun, ayahnya tidak membiarkan prosedur itu terhadap dirinya.
(mas)