Rezim Suriah salahkan AS & Israel atas kebuntuan pembicaraan
Sabtu, 15 Februari 2014 - 23:32 WIB
Rezim Suriah salahkan AS & Israel atas kebuntuan pembicaraan
A
A
A
Sindonews.com – Rezim Suriah menuduh Israel dan Amerika Serikat (AS) telah merusak pembicaraan damai yang ditengahi PBB. Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad juga menyalahkan penolakan oposisi untuk menyelesaikan masalah "terorisme" sebagai penyebab kebuntuan.
"Setiap orang berusaha melakukan yang terbaik untuk merusak seluruh proses, baik Israel atau AS, atau bahkan para sponsor yang disebut koalisi dan oposisi," jelas perunding Pemerintah Suriah, Bashar Jaafari kepada wartawan, Sabtu (15/2/2014).
Jaaafari, yang juga menjabat sebagai Duta besar Suriah di markas PBB, di New York, menunjuk janji Presiden Barack Obama untuk mengambil langkah-langkah guna menekan rezim Suriah. Obama menyatakan hal ini pada Jumat lalu.
Dia juga menuduh Washington telah mendorong para pemberontak Suriah untuk mencapai peningkatan militer, terutama dengan meningkatkan pertempuran di perbatasan selatan negara itu dengan Jordania.
"Orang-orang tidak benar-benar berkomitmen terhadap menjamin keberhasilan konferensi Jenewa. Sebaliknya, tidak ada kebijakan sama sekali," kata Jaafari, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Putaran pertama pembicaraan damai Konferensi Jenewa II telah dilangsungkan pada Januari lalu. Namun, terdapat sejumlah ganjalan untuk melangsungkan putaran berikut, yang rencananya akan digelar pada awal pekan depan. Baik rezim maupun kubu oposisi Suriah masih terus berdebat soal agenda konferensi.
"Setiap orang berusaha melakukan yang terbaik untuk merusak seluruh proses, baik Israel atau AS, atau bahkan para sponsor yang disebut koalisi dan oposisi," jelas perunding Pemerintah Suriah, Bashar Jaafari kepada wartawan, Sabtu (15/2/2014).
Jaaafari, yang juga menjabat sebagai Duta besar Suriah di markas PBB, di New York, menunjuk janji Presiden Barack Obama untuk mengambil langkah-langkah guna menekan rezim Suriah. Obama menyatakan hal ini pada Jumat lalu.
Dia juga menuduh Washington telah mendorong para pemberontak Suriah untuk mencapai peningkatan militer, terutama dengan meningkatkan pertempuran di perbatasan selatan negara itu dengan Jordania.
"Orang-orang tidak benar-benar berkomitmen terhadap menjamin keberhasilan konferensi Jenewa. Sebaliknya, tidak ada kebijakan sama sekali," kata Jaafari, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Putaran pertama pembicaraan damai Konferensi Jenewa II telah dilangsungkan pada Januari lalu. Namun, terdapat sejumlah ganjalan untuk melangsungkan putaran berikut, yang rencananya akan digelar pada awal pekan depan. Baik rezim maupun kubu oposisi Suriah masih terus berdebat soal agenda konferensi.
(esn)